Labirin


Bahkan, hingga kini, aku selalu benci berjalan di sebuah lorong panjang yang nyaris tertutup. Ini mengingatkan pada labirin Daedalus, sebuah labirin di bawah Kreta dalam mitologi Yunani; kisah yang kubaca ketika masih kecil. Aku mulai membayangkan bagaimana jika Minotaur itu muncul di depan kita, lalu memamerkan wujudnya yang mengerikan: tubuh serupa manusia dengan kepala banteng. Apa yang sekiranya akan kita lakukan? Lari. Seakan tak pernah ada pilihan selain lari. Tapi bukan monster itu yang membuatku bergidik. Mereka bilang, labirin Daedalus bisa membaca pikiran kita, ketakutan-ketakutan terdalam kita dan akan menelan kita di dalamnya.

Absurd. Ketakutanku tak beralasan. Itu hanya sebuah mitos. Dan karenanya, aku tak pernah menceritakan ini padamu.

‘Pernahkah kamu bertanya-tanya akan menjadi apa dirimu beberapa tahun mendatang?’ Suaramu memecah kesunyian yang melingkupi kita dan jalan yang seakan tak berujung ini. Kamu tahu? Keringat dingin mengalir di punggungku sebelum kamu bersuara. Sambil menyentuh lenganku, kamu bertanya apakah aku baik-baik saja. Kukatakan, ya, aku baik-baik saja. Memangnya apa yang harus kukatakan?

Aku pernah memikirkan pertanyaan yang sama. Dulu, ketika usiaku masih belasan tahun. Kubayangkan diriku di usiaku sekarang―awal dua puluhan―duduk di sebuah ruang kelas, fokus pada dosen yang tengah menjelaskan tentang peradaban-peradaban kuno beserta dongeng dan mitosnya.

Pernah. Tapi sekarang aku sudah berhenti membayangkannya. Hanya itu yang akhirnya keluar dari bibirku.

‘Kamu takut bermimpi.’ Ah, kamu mengejekku. Selalu begitu. Aku sudah terbiasa dengan itu. Denganmu.

‘Tidak,’ aku menukas. Aku tidak pernah takut bermimpi. Aku selalu, dan masih, mengumpulkannya dalam sebuah stoples kaca bening. Sering kali, aku melongok ke dalam. Melihat kembali isinya, dan mengganti mimpi-mimpi yang kupikir telah kadaluarsa dengan mimpi baru. ‘Stoples itu selalu penuh.’

‘Apa aku ada di dalamnya?’

Pipiku terasa panas. Tak perlu sebuah cermin untuk melihat rona kemerahan itu muncul. Apa aku harus menjawab? Kamu ada di sana. Dan entah bagaimana, selalu ada.

Bibirmu tertarik, mengembangkan sebuah senyuman. Tipis, tidak penuh. Meski matamu justru berkata sebaliknya. ‘Tak perlu menjawab.’

Lantas, kamu mengarahkan pandanganmu ke depan. Senyummu masih bertahan. Kamu tak tahu―atau mungkin sebenarnya tahu?―aku selalu suka senyum itu. Bukan. Aku menyukai segala hal yang ada pada dirimu, bahkan kerapuhan dan sikapmu yang sinis.

‘Kamu tak takut lagi, kan?’

Saat aku mengalihkan pandanganku darimu, aku sadar kamu tak sedang bicara tentang membayangkan kehidupan di  masa mendatang. Kamu bicara tentang lorong ini, labirinku. Tentang ketakutan absurdku, yang terlupakan begitu mendengar pertanyaanmu.

Begitulah, aku tak memerlukan hal magis seperti benang Ariadne untuk menuntunku menuju jalan keluar. Mungkin, aku hanya butuh dirimu berjalan di sisiku.

Dan aku tertawa. Sulit membayangkan aku melakukannya ketika kita melangkahkan kaki memasuki tempat ini. ‘Kamu tahu? Sering kali aku berpikir betapa beruntungnya aku tak pernah mengeluarkanmu dari stoples itu.’

Dan hari ini, aku justru lebih dari sekadar merasa beruntung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s