Hujan di Hari Minggu


Pagi ini terasa begitu berbeda. Sebuah suara lamat-lamat terdengar di tengah derasnya hujan.

Ada yang salah. Seolah ada hal besar yang tak lagi sabar untuk muncul. Orang bilang, jangan pernah meremehkan firasat. Seabsurd apapun, mungkin itu bermakna sesuatu.

Tapi apa?

Lalu, kabar itu tiba. Pada tengah hari. Ketika hujan mulai sedikit mereda. Mungkin, firasat itu benar adanya. Sesuatu yang besar itu memiliki nama. Sesuatu yang selalu melibatkan kenangan di dalamnya.

Kehilangan.

Ada pertanyaan. Benarkah itu yang kurasakan? Kami tak pernah dekat. Kami hanya tahu satu sama lain. Namun ketika sesak mulai memenuhi relung hati, aku tahu rasa itu nyata.

Barangkali, kehilangan bukan hanya milik mereka yang berhubungan akrab. Kehilangan bisa menjelma pada mereka yang selama ini hanya sekadar tahu; pada mereka yang selama ini tak memiliki kesempatan untuk mengenal lebih dekat.

Sekarang, aku sadar, kenangan akan seseorang tak selalu sama bagi setiap orang. Bagiku, kenangan itu adalah suara. Suara yang mengalun memecah kesunyian saat subuh tiba. Suara yang membuatku terbangun dari lelap, meski tak jarang setelahnya aku memilih untuk kembali berbaring. Suara yang tadi pagi kudengar menembus suara hujan.

Dan besok, suara itu takkan lagi pernah kudengar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s