Bahagia Tidak Selalu Sederhana

Sikunir. (dok. pribadi)
Sikunir. (dok. pribadi)

Orang bilang, bahagia itu sederhana. Terlampau sederhana karena kita bisa menemukannya di mana saja, di sekitar kita.

Benarkah?

Lantas, pikiran saya melayang ke setahun lalu, saat saya memutuskan untuk melakukan pendakian jalur pendek di puncak Sikunir bersama seorang teman.

Jumat siang (9 Mei 2014), kami berangkat menuju sebuah Dataran tinggi Dieng, di Wonosobo. Rasa jenuh yang melanda selama dua bulan sebelumnya, membuat saya berekspektasi tinggi pada perjalanan kali itu.
Continue reading “Bahagia Tidak Selalu Sederhana”

Tentang Pertunjukan Lumba-Lumba, Mitologi, dan Lanzarote

(Dimuat di Majalah Bobo, 11 Desember 2014)

Dua puluh enam Mei tahun lalu, saya merasa sangat kesal. Pasalnya, seorang teman kantor saya dengan cerianya bercerita tentang pertunjukan lumba-lumba yang ia tonton bersama keluarga pada malam sebelumnya.

Saya tidak bisa dbilang sebagai pencinta hewan. Tapi mendengar atau melihat hewan yang sengaja dieksploitasi demi mendapatkan keuntungan, hal itu cukup menyakitkan.

Sering saya mendengar tentang pertunjukan lumba-lumba diadakan di Jember. Dengan tiket masuk yang berkisar 20 ribu sampai 30 ribu rupiah, para orangtua mengajak anak-anak untuk menonton atraksi lumba-lumba.

Menyenangkan? Mungkin. Tapi saya tahu, hal itu tidak pastilah tidak berlaku bagi para lumba-lumba. Mereka disiksa terlebih dahulu, dijauhkan dari habitat asli mereka di laut lepas.
Continue reading “Tentang Pertunjukan Lumba-Lumba, Mitologi, dan Lanzarote”

Refleksi dan Kontemplasi dari Sebuah Perjalanan

Dimuat di rubrik Perada Koran Jakarta, 8 Januari 2015

Saya bukan tipe orang yang suka membuat review atau resensi setelah membaca buku. Tapi di penghujung tahun lalu, saya iseng membuat resensi untuk satu buku yang saya menangkan lewat sebuah kuis: Under the Southern Stars. Mungkin karena merasa berhutang karena telah diberi gratis atau sedang rajin saja. Dan level rajin saya kali itu agak kelewat batas karena dengan pedenya saya mengirimkan resensi tersebut ke Koran Jakarta. :P

Dikirim pada liburan Natal tahun lalu, resensi ini dimuat tanggal 8 Januari 2015 atau berselang empat belas hari setelahnya. Berhubung saya tinggal hampir di ujung timur Pulau Jawa, saya tidak tahu bagaimana penampakannya di koran. Apalagi saya baru tahu resensi itu dimuat dua hari setelah tanggal tayang, itu pun melalui website Koran Jakarta.
Continue reading “Refleksi dan Kontemplasi dari Sebuah Perjalanan”