Refleksi dan Kontemplasi dari Sebuah Perjalanan


Dimuat di rubrik Perada Koran Jakarta, 8 Januari 2015

Saya bukan tipe orang yang suka membuat review atau resensi setelah membaca buku. Tapi di penghujung tahun lalu, saya iseng membuat resensi untuk satu buku yang saya menangkan lewat sebuah kuis: Under the Southern Stars. Mungkin karena merasa berhutang karena telah diberi gratis atau sedang rajin saja. Dan level rajin saya kali itu agak kelewat batas karena dengan pedenya saya mengirimkan resensi tersebut ke Koran Jakarta. :P

Dikirim pada liburan Natal tahun lalu, resensi ini dimuat tanggal 8 Januari 2015 atau berselang empat belas hari setelahnya. Berhubung saya tinggal hampir di ujung timur Pulau Jawa, saya tidak tahu bagaimana penampakannya di koran. Apalagi saya baru tahu resensi itu dimuat dua hari setelah tanggal tayang, itu pun melalui website Koran Jakarta.

Untuk cara pengirimannya, bisa cari di google. Berhubung informasi tersebut sudah umum, jadi saya rasa tidak masalah meski saya tidak menuliskannya. :P

Honornya? Lumayan besar untuk ukuran resensi yang tidak terlalu njelimet dan hanya terdiri dari 3500-4000 karakter. Yang pasti, cukup untuk membeli dua puluh mangkuk bakso.

Refleksi dan Kontemplasi dari Sebuah Perjalanan

 

Memutuskan untuk keluar dari zona nryaman bukanlah sebuah perkara mudah. Sering kali keputusan meninggalkan beberapa pertanyaan dari orang-orang terdekat, bahkan diri sendiri. Serta anggapan dan pembicaraan tak mengenakkan dari beberapa orang: kurang bersyukur, sok idealis, dan lain sebagainya.

Bagi Anida Dyah, keputusan untuk menjalani career break diambil demi sesuatu yang lebih besar. Hanya saja, sesuatu itu sering kali dianggap sebagai sesuatu tidak penting dan kekanakan bagi sebagian besar yang lain. Keliling dunia. Tidak ada yang ingin menukar kenyamanan dengan ketidakpastian hanya untuk senang-senang (hal 2).

Ya, meninggalkan meja kerja yang ditempati setelah beberapa tahun, meninggalkan kehangatan rumah, dan memilih berjuang di negeri asing juga menimbulkan kegalauan tersendiri baginya. Bagaimana jika keputusan yang telah diambilnya itu salah?

Bekerja di negeri asing tidak seindah yang dibayangkan oleh kebanyakan orang. Dengan visa WHV Australia di tangan, pekerjaan tersedia bagi para backpacker mancanegara yang berlibur sekaligus bekerja di sana sangat jauh berbeda dengan yang telah ditinggalkan. Menjadi pelayan di sebuah restoran Asia dengan upah di bawah standar, jam kerja yang benar-benar tidak manusiawi, dijalaninya dengan satu mimpi yang tak pernah pergi dari benaknya: keliling dunia.

Dan ketika akhirnya masa kerja itu selesai, petualangannya di negeri kanguru pun dimulai. Bersama Judith, Aymeric, dan Thomas—pejalan lain yang ditemuinya melalui sebuah situs bernama Gumtree—dia menyusuri jalan sejauh 4500 km yang terbentang di antara Perth dan Melbourne. “Ini adalah bagian dari mimpi dan perjalanan hidupku.Perjalananku melihat dunia dan menjadi bagian dari mereka.” (hal. 71)

Mencicipi wine di sebuah kota kecil Maragaret River, memanjat pohon karri tua di Pemberton, hingga menikmati pemandangan jutaan bintang di langit Nullarbor. Perjalanan itu pun tak sepenuhnya berjalan mulus, pertengkaran demi pertengkaran dan perdebatan terjadi hingga tak jarang nyaris memecah kelompok mereka.

“Ribuan kilometer dari sini, keluarga dan teman-teman kita mungkin sedang bekerja, menikmati makan malam di restoran, atau menikmati sejuta kemewahan dan kenyamanan. Sedangkan kita, berbaring di sini, menatap jutaan bintang. Di suatu tempat aneh yang hanya sedikit orang pernah mendengar namanya. Tapi aku lebih memilih keadaan ini.” (hal. 235)

Travel brings the best and the worst out of you. Perjalanan sering kali membuat kita tahu sampai di mana batas kemampuan kita dan sampai mana pula kita bisa mendorong batas tersebut. Dan sebuah perjalanan sejati tak melulu soal kesenangan dan rasa puas yang dirasakan, namun juga apa yang didapat.

Sebuah pembelajaran.

Buku ini bukan sekadar buku perjalanan biasa. Bukan buku yang berisi tentang tips dan beberapa spot yang wajib dikunjungi. Ini lebih dari itu. Under the Southern Stars adalah perjalanan itu sendiri. Sebuah dari refleksi dari pengalaman yang telah lalu. Tentang meninggalkan sebuah rutinitas dan zona nyaman, tentang perjuangan di negeri asing, berusaha menyelaraskan pikiran dengan teman seperjalanan, hubungan dengan alam, hingga berinteraksi dengan penduduk lokal.

Namun yang paling penting adalah menemukan dirinya sendiri. [L]

Untuk versi Koran Jakarta, bisa dilihat di sini. 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s