Tentang Pertunjukan Lumba-Lumba, Mitologi, dan Lanzarote


(Dimuat di Majalah Bobo, 11 Desember 2014)

Dua puluh enam Mei tahun lalu, saya merasa sangat kesal. Pasalnya, seorang teman kantor saya dengan cerianya bercerita tentang pertunjukan lumba-lumba yang ia tonton bersama keluarga pada malam sebelumnya.

Saya tidak bisa dbilang sebagai pencinta hewan. Tapi mendengar atau melihat hewan yang sengaja dieksploitasi demi mendapatkan keuntungan, hal itu cukup menyakitkan.

Sering saya mendengar tentang pertunjukan lumba-lumba diadakan di Jember. Dengan tiket masuk yang berkisar 20 ribu sampai 30 ribu rupiah, para orangtua mengajak anak-anak untuk menonton atraksi lumba-lumba.

Menyenangkan? Mungkin. Tapi saya tahu, hal itu tidak pastilah tidak berlaku bagi para lumba-lumba. Mereka disiksa terlebih dahulu, dijauhkan dari habitat asli mereka di laut lepas.

Karenanya, setiap sepupu saya yang masih SD meminta saya mendampinginya untuk menonton, saya tegas menolak. Kasihan, tahu tidak kalau lumba-lumba itu blablabla… Saya berusaha menjelaskan dengan bahasa sederhana agar bisa dimengerti olehnya. Ia sebal, tentu saja. Tapi itu tetap tak mengubah pendirian saya.

Kembali ke kantor siang itu, kekesalan saya pada pertunjukan lumba-lumba ternyata sampai pada puncaknya. Dalam hati, saya menggerutu. Marah. Bahkan, saya sampai berpikir, bagaimana jika Poseidon—si penguasa lautan dalam mitologi Yunani—menghukum mereka?

Pikiran itu nyaris membuat saya tertawa. Poseidon hanya hidup dalam kepercayaan kuno. Namun rupanya pemikiran itu juga memantik sebuah ide yang tidak pernah saya duga sebelumnya: menulis cerita anak.

Meski sangat menyukai dongeng dan cerita anak, saya tidak pernah bermimpi untuk menuliskannya. Membuat cerita anak tidak akan mudah ditulis bagi saya yang sudah berumur dua puluhan. Apalagi, saya sudah vakum menulis selama setahun.

Tapi waktu itu sikap keras kepala saya kambuh. Saya tidak peduli. Berbekal kegemaran akan mitologi dan juga kekesalan yang memuncak, saya mulai menulisnya. Kisah tentang lumba-lumba yang ditangkap oleh seorang nelayan.

Dalam cerita itu, saya memilih Lanzarote, Spanyol untuk latar tempatnya. Nama kota di pesisir Spanyol itu seakan melekat di benak saya sejak membaca P.S. I Love You beberapa tahun sebelumnya. Disebutkan, di balik salah satu bukit karangnya, kita bisa melihat kawanan lumba-lumba berkecipak di sore hari.

Karena berlatar di Spanyol, saya menggunakan bentuk Romawi sang dewa laut untuk menjadi figuran dalam cerita ini. Neptunus. Bukankah akan terasa ganjil jika saya memaksa menulis nama Poseidon? :P

Cerita itu selesai dalam sekali duduk, kurang dari tiga puluh menit. Sempat kesulitan mencari nama untuk lumba-lumba, namun pilihan saya berakhir pada Delphin. Delphin merupakan bahasa Latin dari lumba-lumba, dan dalam seri Percy Jackson and the Olympian, Delphin adalah panglima perang kebanggaan Poseidon.

Saya mengirimkannya ke majalah Bobo hari itu juga, dengan tidak menaruh harap sama sekali. Bukankah ini karya anak pertama saya, dan wajar saja jika cerita itu ditolak.

Tapi di akhir November 2014, saya mendapatkan telepon dari pihak Bobo yang mengabarkan bahwa dongeng tersebut akan dimuat di Bobo edisi 11 Desember 2014!

Senang. Terlebih itu pertama kalinya naskah saya nampang di media. :’)

Sekarang, saya baru menyadari mengapa mentor menulis saya di Kelas Merah Jambu Anak IV, Mbak Nurhayati, memberikan metode menulis dengan menggunakan kalimat yang kita dengar. Dengan begitu, ide yang kita punya akan menarik, unik, dan tidak pasaran.

Dan ini dia dongeng yang saya tulis setahun lalu dan dimuat sekitar setengah tahun setelahnya. Terlambat posting memang. Maklumlah, sedang ribet dengan pekerjaan kantor. *alasan*

Ada beberapa perubahan minor dalam edisi cetaknya. Seperti, tokoh ayah di sini yang diganti menjadi kakak oleh Bobo.

Selamat membaca… :)

 

Orang bilang, akan selalu ada yang pertama. :')
Orang bilang, akan selalu ada yang pertama. :’)

 

Delphin, si Lumba-Lumba

Oleh: Leanita W.

Berabad-abad lalu, di pesisir pantai Spanyol, hidup seorang nelayan bernama Carlo. Ia memiliki seorang anak laki-laki berumur sepuluh tahun bernama Andres. Istrinya, ibu Andres, meninggal ketika Andres masih berusia dua tahun.

Hidup mereka berkecukupan. Meski begitu, Carlo tidak pernah bersyukur dan selalu merasa kurang.

Suatu hari, sepulang dari melaut, ia melihat seekor lumba-lumba terdampar. Carlo tersenyum licik, sifat tamaknya muncul. Dibawanya lumba-lumba itu pulang.

Setiap hari, ia melatih lumba-lumba agar bisa menuruti perintahnya. Ada kalanya, ketika lumba-lumba itu hanya diam saja, Carlo mencambuknya

Melihat itu, Andres anaknya menangis. “Hentikan, Ayah. Kasihan dia. Tubuhnya penuh luka.

Namun Carlo tidak memedulikan rengekan putranya. Ia terus melatih lumba-lumba itu, mengajarinya menyudul bola dengan moncongnya yang panjang. Juga mengajarinya menari ketika musik  dimainkan.

Hari-hari berlalu, lumba-lumba itu kini bisa menari mengikuti musik yang dimainkan. Carlo sangat senang, dan berencana mengadakan pertunjukan lumba-lumba pertama di kotanya.

Pertunjukan itu sukses besar. Banyak orang yang menonton pertunjukan itu. Mereka bertepuk tangan, tertawa-tawa.

Carlo puas. Ia telahmemperoleh sangat banyak uang dalam pertunjukan itu. Carlo pun memutuskan untuk mengadakan pertunjukan itu sekali dalam seminggu agar mendapat uang yang lebih banyak.

Namun si kecil Andres merasa sedih. Setiap hari ia terlihat semakin murung.. hari itu, ia mulai mengurung diri di kamar, dan mulai menangis. Ia tahu, Delphin, begitu ia memanggil lumba-lumba itu, tidak menyukai semua. Delphin ingin hidup bebas. Berenang di lautan, tempat ia seharusnya berada.

Berkali-kali Andres mengutarakan gagasan itu pada ayahnya. Namun ayahnya menjadi marah, dan berkata bahwa Andres tidak tahu apa-apa.

Maka, Andres mulai berdoa. “Dewa, sadarkanlah ayahku. Jangan biarkan ia selalu merasa puas sementara Delphin justru tersiksa karena pertunjukan itu.”

Neptunus, sang dewa laut, mendengar doa Andres dan bertekad memberi pelajaran pada Carlo.

Malam harinya, ketika Carlo tertidur, ia bermimpi buruk. Ia berada di sebuah tempat yang besar. Di kanan dan kirinya terdapat tribun dengan banyak kursi. Carlo berada di tengah arena, begitulah yang ia pikirkan.

Seketika tribun itu tak lagi kosong. Kursinya mulai terisi oleh banyak orang. Suara mereka begitu ramai.

Bukan orang, tapi lumba-lumba!

Kemudian, terdengar sebuah suara. ‘Para hadirin, mari kita saksikan pertunjukan akbar tahun ini. Manusia ini akan menuruti apapun yang diperintahkan oleh pawangnya. Dia akan menari dan…”

“Cukup!” teriak Carlo. Apa-apaan ini? pikirnya. Di hadapannya berdiri seekor lumba-lumba yang berukuran lebih besar.

Carlo menatap lumba-lumba di depannya. Binatang itu tak asing baginya. Ada bekas luka di moncongnya.

“Aku Delphin.” Lumba-lumba itu tersenyum. “Dan aku akan menjadi pawangmu. Kau harus menuruti perintahku.”

Carlo terkejut. Ia ingin lari, tapi kemudian ia sadar ia berada di dalam air. Di kejauhan ada sosok menyerupai manusia, perawakannya tinggi-besar. Sosok itu memegang sebuah trisula berwarna hijau laut.

Apakah kau mengerti sekarang, bagaimana perasaan Delphin selama ini?

Carlo gemetar. Sosok itu bukan manusia, melainkan seorang dewa. Ia tak pernah merasa setakut ini sebelumnya.

“Aku mengaku salah, Dewa. Aku salah. Maafkan aku. Maafkan aku.” Ia mulai menangis, sangat keras sekali.

Lalu tubuhnya berguncang, “Ayah, kau tidak apa-apa?” Andres sudah berada di tepi tempat tidurnya. “Sepertinya ayah bermimpi buruk.”

“Besok… besok kita kembalikan Delphin ke laut,” ucap Carlo sambil bercucuran air mata.

Andres memandang ayahnyayakjub,  tak percaya. “Kenapa?”

Ayahnya menggeleng. Andres langsung tahu, doanya dikabulkan dewa.

Keesokan harinya, mereka membawa Delphin ke pantai di dekat bukit karang. Andres mengelus Delphin sambil berkata ia menyayangi dan akan selalu merindukannya. Delphin menyodorkan moncongnya ke pipi Andres, berjanji ia akan selalu menemui Andres di pantai itu.

Dan Carlo… oh, ia masih menangis dan terus-menerus meminta maaf. Mereka melepaskan Delphin ke lautan. Lumba-lumba itu langsung berkecipak gembira karena kembali ke habitatnya.

Sore hari, Andres kembali ke pantai itu dan berharap Delphin masih berada di sana. Belum-belum, ia sudah merindukan Delphin. Dan yang dilihatnya sungguh membuatnya senang. Ada banyak lumba-lumba di sana, bukan hanya Delphin. Mereka berlompatan ke udara.

Sekarang, di sebuah pantai balik bukit karang Lanzarote, Spanyol, lumba-lumba itu masih sering berkumpul di sana. Juga Delphin, yang masih berharap akan bertemu Andres. [L]

Advertisements

One thought on “Tentang Pertunjukan Lumba-Lumba, Mitologi, dan Lanzarote

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s