Bahagia Tidak Selalu Sederhana


Sikunir. (dok. pribadi)
Sikunir. (dok. pribadi)

Orang bilang, bahagia itu sederhana. Terlampau sederhana karena kita bisa menemukannya di mana saja, di sekitar kita.

Benarkah?

Lantas, pikiran saya melayang ke setahun lalu, saat saya memutuskan untuk melakukan pendakian jalur pendek di puncak Sikunir bersama seorang teman.

Jumat siang (9 Mei 2014), kami berangkat menuju sebuah Dataran tinggi Dieng, di Wonosobo. Rasa jenuh yang melanda selama dua bulan sebelumnya, membuat saya berekspektasi tinggi pada perjalanan kali itu.

Pendakian kami mulai sekitar pukul empat subuh pada keesokan harinya. Hasil riset kecil-kecilan di blog menyebutkan, bahwa perjalanan sampai puncak setidaknya membutuhkan waktu paling lama empat puluh lima menit, dengan medan yang cenderung mudah.

Di situ saya belajar untuk tidak mudah memercayai penilaian orang lain. Pendakian itu tidak semudah yang saya pikirkan. Jalan yang sempit, agak terjal, dan berbatu. Bahkan berkali-kali saya harus meyentuhkan lutut ke tanah ketika menaiki  undakan batu yang agak tinggi.

Napas saya mulai memendek ketika sudah berada sampai di tengah perjalanan. Paru-paru seperti terbakar, udara dingin tidak berarti apa-apa karena saya justru merasa berkeringat.

Saya mulai bertanya-tanya tentang apa yang saya lakukan ratusan kilometer dari rumah dan meninggalkan kenyamanan yang saya miliki. Menyegarkan pikiran, memenuhi obsesi saya untuk setidaknya sekali melakukan pendakian. Namun, yang saya dapatkan hanya rasa lelah.

Pikiran untuk berhenti dan tidak melanjutkan pendakian pun terlintas. Sungguh menggiurkan. Saya bisa kembali ke homestay, atau mencari tempat di tepi jalur pendakian yang dari sana saya bisa melihat gugusan bintang.

Sikunir, Dieng. (photo taken by Febry)
Sikunir, Dieng. (photo taken by Febry)

Dukungan yang diserukan teman dan beberapa pendaki yang masih duduk di bangku SMA kembali bisa menyemangati saya. Namun, rupanya rasa lelah benar-benar mengambil alih. Semangat itu kembali meredup ketika saya hanya berjarak beberapa langkah lagi dari puncak.

Detik ketika saya menyandarkan kepala pada sebuah dahan pohon, keputusan untuk berhenti dan menyerah sudah bulat. Sambil mengatur napas, saya berniat untuk mengutarakannya pada teman seperjalanan. Tapi sebuah seruan yang datang dari seorang lelaki pada pasangannya menginterupsi niat itu.

Begini saja sudah menyerah? Ayo, demi sunrise.

Perkataannya seakan menampar saya. Begini saja. Sontak, saya teringat akan mimpi-mimpi saya. Keinginan saya untuk mellihat sunrise pertama di Pulau Jawa dari Kawah Ijen yang jalur pendakiannya lima kali lebih panjang dan dengan medan yang lebih sulit. Niat untuk menyelesaikan sebuah naskah yang sudah beberapa bulan saya tinggalkan.

Begini saja saya sudah berniat menyerah, lalu bagaimana dengan impian-impian saya yang lebih besar?

Waktu itu saya ingin berteriak: saya tidak selemah itu. Saya bangkit, mengambil napas panjang, dan mulai meneruskan perjalanan sambil menggerutu pada bagian diri yang selalu merayu agar saya menyerah.

Dengan tidak mengacuhkan rasa lelah, saya terus berjalan. Terus, hingga akhirnya langkah saya menapaki tanah dengan medan lebih landai dan berukuran jauh lebih luas dari jalan tadi.

Senyum saya mengembang. Saya berhasil, dan rasa bahagia mulai membuncah di dada.

Puncak Sikunir.

Matahari belum muncul waktu itu. Sambil duduk di atas tunggul pohon yang baru ditebang, saya mengamati orang-orang di sekitar saya. Beberapa tertawa, bercanda, berbagi kebahagiaan dengan orang terdekat karena berhasil sampai di puncak.

Tiba-tiba saya teringat akan orang-orang yang ditemui Brandon Stanton di jalanan kota New York. Selama 2-3 tahun terakhir, microblog miliknya—Humans of New York—menjadi salah satu inspirasi kebahagiaan saya. Dalam posting-posting pendek hasil wawancaranya, saya menyadari bagaimana setiap orang memiliki permasalahan mereka sendiri, ketakutan mereka sendiri.

Bukan, ini bukan saya. :P
Bukan, ini bukan saya. :P

Mau tidak mau, itu membuat saya membayangkan apa yang orang-orang di sekitar saya perjuangkan selama masa pendakian. Tentang apa yang mereka rasakan. Hanya untuk mendapatkan rasa bahagia dan puas ketika sampai di akhir pendakian.

Perlahan, matahari mulai keluar dari peraduannya. Semburat warna biru muda di sela-sela kuning keemasan menumbuhkan rasa bahagia yang tak terperi. Golden sunrise yang kebanyakan orang gembor-gemborkan itu memang menimbulkan kesan magis.

Lelah yang dirasakan selama perjalanan tidak lagi berarti. Yang tersisa hanya rasa bahagia, dan rasa syukur karena telah berhasil menyemangati diri untuk tidak menyerah akan apa yang saya hadapi.

Golden sunrise's Sikunir. Matahari perlahan muncul. (dok. pribadi)
Golden sunrise’s Sikunir. Matahari perlahan muncul. (dok. pribadi)

Melihat kecantikan alam yang terhampar di depan mata, merasakan momen bahagia bersama sahabat seakan ingin menasbihkan Sabtu pagi itu menjadi salah satu halaman terindah dalam hidup saya.

Ah, ya, bahagia tidak hanya sekadar buku baru, kue keju, atau sepasang sepatu idaman. Terkadang bahagia juga membutuhkan perjuangan dan tekad kuat untuk tidak menyerah. [L]

Rasa lelah yang terbayarkan.. :) (dok. pribadi)
Lelah yang terbayar. :) (dok. pribadi)

 

* Tulisan ini diikutsertakan dalam blog contest Berbagi Bahagia Bersama TabloidNova.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s