Trip Ijen-Baluran #1: Twists and Turns


‘No story is worth telling without the twists and turns. Make them count instead.’ — Charlotte Eriksson

Setelah berhasil menaklukkan Sikunir tahun lalu, saya dan seorang teman segera merencanakan perjalanan ke Kawah Ijen. Inginnya, sih, saya survey terlebih dulu ketika main lebaran ke rumah saudara di Desa Blawan, Bondowoso. Tapi karena tidak ada anggota keluarga yang berminat, rencana itu diurungkan.

Berhubung tidak ingin rugi, trip ke Kawah Ijen pun akan langsung dilanjutkan ke Taman Nasional Baluran, Situbondo. Tanggal telah ditentukan, yaitu tanggal 1-3 Mei, dengan itinerary sebagai berikut:

Tanggal 1-2 Mei 2015: ke Kawah Ijen dan TN. Baluran
Tanggal 3 Mei: safari pantai di Jember (Pantai Payangan, Watu Ulo, dan Papuma)

Tapi rupanya semesta sedang berkonspirasi untuk menguji kesabaran saya. Satu bulan terakhir, pekerjaan yang menumpuk membuat saya nyaris seperti zombie setiap jam kerja dan selalu senewen ketika berhadapan dengan orang lain. Lalu Jumat pagi, tanggal 1 Mei, saya terpaksa merencanakan ulang perjalanan saya.

Liburan yang sebenarnya harus diundur keesokan hari. Pasalnya, bus malam yang ditumpangi Febry, teman saya dari Kulon Progo, terjebak macet imbas banjir di Kraton, Pasuruan. Jadi, karena menurut perkiraan sampai selepas tengah hari, kami terpaksa mengorbankan acara safari pantai demi Kawah Ijen dan Taman Nasional Baluran.

Sekitar pukul dua siang, bus Rosalia Indah yang ia tumpangi, akhirnya, tiba. Jember waktu itu diguyur hujan. Setelah numpang mandi di kantor Perwakilan Pahala Kencana (kenapa di sini, nanti akan saya buat post terpisah), kami segera meluncur menuju warung Mie Apong untuk mengganjal perut dan memenuhi rasa penasaran Febry.

Sampai di rumah, kami langsung beristirahat karena Jumat malamnya kami ada acara kopdar bareng Mas Te di tempat nongkrong paling ngehits di Jember, Kafe Kolong. Kami mengenal Mas Te lewat media sosial twitter sekitar empat tahun lalu. Saya dan Mas Te satu angkatan, namun tidak pernah satu sekolah.

Puas mengobrol, meski sedikit jaim karena itu pertama kalinya bertemu, kami memutuskan berpisah, karena saya dan Febry akan berangkat pagi sekali keesokan harinya.

Sabtu pagi, dengan diantar Bapak dan salah satu kerabat, kami menuju Situbondo. Kenapa Situbondo? Kami berencana untuk mengunjungi TN. Baluran terlebih dahulu, sebelum melanjutkan ke Perkebunan Blawan.

Berangkat pukul lima pagi dari Sub Terminal Arjasa dengan menggunakan bus Jember Indah, kami tiba di Situbondo pukul tujuh lima belas menit. Menunggu bus tujuan Banyuwangi atau Denpasar rupanya sama seperti menunggu angkot di kota Jember. Lama.

Bus yang ditunggu akhirnya terlihat memasuki terminal. Dengan penuh rasa percaya diri bahwa rencana ini akan berjalan lancar, kami segera naik dan memilih tempat duduk.

Sayangnya, lagi-lagi takdir tidak memihak. Bus ngetem dan tak kunjung berangkat—mungkin benar anggapan awal saya bahwa bus ekonomi di jalur Pantura 11-12 dengan angkot di kampung halaman saya.

Tiga puluh menit kemudian, belum ada tanda-tanda bus akan berangkat. Selesai berbasa-basi dengan penumpang sebelah, rasa panik mulai menyerang. Terlebih, menurut info yang saya dapat dari saudara saya yang tinggal di Blawan, Mbak Anik, angkutan menuju ke sana hanya ada satu: dan itu pun berangkat pukul satu siang dari Terminal Bondowoso.

Bosan setengah mati, membuat saya iseng membuka aplikasi GoogleMaps dan memasukkan keyword Taman Nasional Baluran di kotak pencarian. Meski orang Timur (Jawa Timur bagian timur), saya tidak begitu paham soal kota-kota yang terletak di utara Jember. Dalam pikiran saya, jaraknya paling tak lebih jauh dari Jember Kota ke Papuma. Ternyata…

Rasanya kaget sekali sewaktu membaca informasi yang tertera di sana: jarak Terminal Situbundo – TN. Baluran adalah 1,5 jam perjalanan, itu pun dengan menggunakan kendaraan pribadi!

Setelah memberi tahu Febry—dan beruntung bus belum juga berangkat—kami turun dari bus, dan segera naik ke bus jurusan Bondowoso. Lucunya, bus yang kami naiki adalah bus Jember Indah yang tadinya kami naiki dari Jember.

Dan lagi-lagi, rencana berubah. Saat itu, saya jadi teringat perkataan Mbak Nur di kelas dua minggu sebelumnya. Beliau mengajarkan kami membelok-belokkan cerita, agar cerita manjadi lebih menarik dan tidak membosankan. Saya tersenyum sendiri mengingat perkataan itu begitu dekat dengan yang saya alami.

Jalanan kota dilihat dari Stasiun Bondowoso. (dok. pribadi)
Jalanan kota dilihat dari Stasiun Bondowoso/ (dok. pribadi)

Pukul delapan lebih lima belas menit, bus itu membawa kami ‘kembali’ ke Bondowoso, dan tiba hampir satu jam setelahnya. Demi menghindari rasa bosan ketika menunggu angkutan, perjalanan pagi itu berakhir di stasiun Bondowoso dengan tujuan ingin melihat Monumen Gerbong Maut.

Stasiun Bondowoso tidak lagi digunakan, kecuali untuk penjualan tiket, bersamaan dengan dinon-aktifkannya jalur kereta api jurusan Jember-Panarukan pada tahun 2004. Arsitektur jaman kolonial tanpa sentuhan aksen modern membuat saya sedikit terpana ketika baru sampai.

Kami memutuskan masuk untuk melihat-lihat bagian dalam sebentar, yang sayangnya kami tidak diperbolehkan untuk masuk ke eks-ruang tunggu. Saya tidak tahu alasannya mengapa, toh, stasiun tersebut juga sudah tidak digunakan. Tapi ketika akhirnya kembali ke halaman, saya jadi tahu bahwa stasiun yang usianya lebih tua dari Stasiun Jember itu, ditetapkan sebagai aset warisan budaya oleh PT. KAI.

dok. pribadi
dok. pribadi

Dan ketidaktahuan saya tentang kota-kota tetangga sebelah utara berlanjut. Dalam teori sok tahu saya, Monumen Gerbong Maut pastinya berada di dekat stasiun. Setelah celingukan ke sana-kemari, penampakan monumen tersebut tidak kunjung ditemukan.

Karena sudah lelah dan takut tersesat, kami pun memutuskan untuk naik becak menuju alun-alun Bondowoso yang berjarak sekitar 1 kilometer dari stasiun. Dan kejutan pun berlanjut… ternyata Monumen Gerbong Maut berada tepat di depan alun-alun! Uh, saya masih ingat rasanya ditertawai salah satu teman dekat ketika bercerita soal ini beberapa hari kemudian.

Monumen ini merupakan saksi bisu perjuangan rakyat Kota Tape di masa penjajahan Belanda. Konon, ketika ruang tahanan di Bondowoso penuh, pihak Belanda memindahkan 100 tahanan yang dipilih secara acak ke Kali Sosok, Surabaya dengan menggunakan kereta api. Mereka diberangkatkan menggunakan tiga gerbong yang terbuat dari plat baja dan tanpa lubang ventilasi. Perjalanan Bondowoso-Surabaya waktu itu memakan waktu hingga dua hari. Keadaan panas dan pengap, dan tidak diberi makanan membuat 51 orang meninggal dunia dalam gerbong.

Monumen Gerbong Maut. (dok. pribadi)
Monumen Gerbong Maut. (dok. pribadi)

Sempat kecewa karena ternyata gerbong di sini hanya replika. Sedang dua buah gerbong asli berada di Museum Brawijaya (Malang) dan satu gerbong lagi di Gedung Juang DHD 45 Surabaya. Tapi, toh, itu tetap tak bisa menghalau rasa merinding ketika melihatnya.

Sekitar pukul sebelas, setelah puas nongkrong dan makan siang di alun-alun kota, kami berangkat menuju terminal. Angkutan menuju Blawan sudah stand by di jalurnya. Terselip  rasa ragu apakah benar angkutan itu menuju Blawan, atau hanya berhenti sampai di Desa Sempol. Namun setelah sang sopir dan salah satu penumpang memastikan, tanpa menunggu lama kami segera masuk dan duduk di deratan kursi paling belakang.

Pilihan yang terbilang tepat, mengingat waktu itu angkutan hanya berisi enam orang penumpang. Belum lagi, di depan lajur kursi bagian depan hingga tengah dipenuhi barang-barang belanjaan. Katanya, barang-barang tersebut merupakan belanjaan Homestay Catimor dan titipan beberapa warga di atas. Jadilah, lajur kursi paling belakang terbilang paling merdeka. :P

Pemandangan di dalam minibus. (dok. pribadi)
Pemandangan di dalam minibus. (dok. pribadi)

Angkutan berangkat pukul dua belas siang, bukan pukul satu seperti yang Mbak Anik katakan. Biasanya, menurut pengalaman ketika naik bersama keluarga menggunakan kendaraan pribadi, perjalanan Bondowoso-Blawan menghabiskan waktu sampai dua setengah jam. Namun karena ini angkutan umum, dan berkali-kali harus menaikkan serta menurunkan barang belanjaan di sepanjang jalan, lama perjalanan mencapai tiga jam lebih.

Di tengah perjalanan, hujan mulai turun. Satu-satunya sinyal seluler yang biasanya menjangkau hingga sana, tiba-tiba hilang.

Kami turun tepat di depan rumah saudara saya, karena kebetulan sopir mengenal suaminya, Mas Pri. Seusai mandi dan beristirahat sebentar, kami memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kompleks perumahan dan bermain dengan keponakan.

Suasana perumahan karyawan PTPN XIi, Blawan, Bondowoso. (dok. pribadi)
Suasana perumahan karyawan PTPN XII, Blawan, Bondowoso. (dok. pribadi)

Sampai selepas isya’, hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.  Akhirnya, dengan agak terpaksa, kami membuat perjanjian dengan Mas Pri. Jika hujan tidak juga berhenti sampai tengah malam, terpaksa cara pendakian harus dibatalkan.

Rencana cadangan kembali dibuat, kami turun ke kota esok pagi untuk mencapai Baluran. Tapi harapan untuk sampai di Kawah Ijen belum juga pupus. Sebelum memejamkan mata, saya tidak henti merapalkan doa.

Meminta hujan berhenti turun. [L]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s