Trip Ijen-Baluran #2: Misty Mountain(s)


‘When things get too good and too right and too perfect, it’s only because the ugly twist hasn’t yet infiltrated the goodness of it all.’ — Colleen Hoover

Pukul satu dini hari, saya terbangun. Karena takut kebablasan, saya segera menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Air sedingin es, jauh lebih dingin dari kunjungan saya ke Blawan lebaran 2014 lalu.

Setelah bersiap-siap dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal, kami berangkat dengan dibonceng motor. Bertiga. Syukurlah, di gunung tidak ada operasi jalan raya seperti di kota, jadi tidak ada kata tilang di sini. :P

Dengan jalanan yang tak menentu, kadang mulus dan kadang berlubang, butuh waktu kira-kira empat puluh menit untuk sampai di Paltuding.

Paltuding di siang hari. (dok. pribadi)
Paltuding di siang hari. (dok. pribadi)

Sensasi berada di Paltuding pada dini hari rupanya berbeda daripada saat pagi hari. Dua tahun sebelumnya, saya hanya melihat senyum semringah terpasang pada wajah-wajah orang yang baru saja turun dari kawah.

Pendakian sendiri baru dibuka pukul dua dini hari. Sebelum mulai mendaki, kita diharuskan membeli tiket terlebih dahulu—yang saya tidak tahu berapa, karena dibayarin. XD

Awalnya, medan pendakian terasa mudah karena agak landai. Namun setelahnya, jangan ditanya. Saya jadi ingin merutuki setiap tulisan di blog orang yang mengatakan jalur pendakian menuju Ijen tergolong mudah.

Berat. Semua memang relatif. Medan seperti itu mungkin akan terasa mudah bagi mereka yang berpengalaman. Karena itu, jangan terlalu memercayai tulisan ini juga.

Kata Mas Pri, kalau mau naik gunung kudu rajin olahraga dan lari. Dan, iya, kami juga tahu. Bahkan saya berniat untuk rajin lari setelah samapi di Sikunir tahun lalu. Tapi niat selalu tinggal niat, tidak pernah terealisasikan.

Beruntung hujan turun malam sebelumnya karena jalan yang dilalui berpasir dan hawa jadi tak terlalu dingin. Jalur pendakian berkelok dengan sudut kemiringan yang tajam dan terus menanjak.

Entah sudah beberapa ratus meter jarak yang kami tempuh ketika suami saudara berkata bahwa sebentar lagi jalannya akan lumayan rata. Senang? Tidak. Karena tak jauh di belakang kami, seorang guide menyahut, hanya sedikit.

Dan memang benar-benar hanya jalur pendek, tidak sampai lima puluh meter. Setelahnya, jalan kembali menanjak.

Kami berhenti berkali-kali setiap menempuh jarak lima puluh meter. Payah memang. Namun saya teringat perkataan salah satu bule yang saya curi dengar ketika sama-sama beristirahat di salah satu pos yang ada.

Don’t push too hard. Itu yang ia katakan pada anak-anaknya. Jangan terlalu memaksakan diri. Jika capek, berhenti saja. Istirahat, kumpulkan tenaga. Jika lelah sudah hilang, kembali lanjutkan perjalanan. Dan begitu seterusnya.

Jadilah, daripada pingsan atau kecapekan sekembalinya ke rumah, kami memilih berhenti setiap lelah terasa.

Kurang lebih satu setengah jam, kami akhirnya sampai di pos Bunder, yang berarti kami sudah menempuh setengah perjalanan!

Sebenarnya ada kejadian yang menarik perhatian saya sebelum sampai di Pos Bunder. Ketika beristirahat dengan latar belakang kerlip lampu Kota Banyuwangi di kejauhan, saya lagi-lagi mencuri dengar perkataan orang.

Seorang bapak-bapak entah berasal dari mana, terduduk tak jauh dari saya dengan napas tersengal. Sambil menunduk, ia berkata pada pemuda yang saya duga adalah anaknya bahwa ia sudah sangat lelah.

Pemandunya berkata, bahwa jalur yang menanjak hanya sekitar tiga ratus meter lagi, dan setelahnya jalan akan cenderung datar. I never climbing for years, hanya itu yang akhirnya keluar dari bibir si bapak. Sang anak berdiri di depannya, tidak berkata apa-apa.

Pandangan saya seakan tak ingin lepas darinya, dengan tidak mengacuhkan anaknya yang sempat memergoki saya tengah menonton mereka. Saya tidak tahu kenapa, namun lelaki tua tersebut mengingatkan saya pada sosok Anthony DiNozzo Sr. dalam serial NCIS.

Saya tidak bisa berhenti membayangkan tentang apa yang telah ia alami sehingga memutuskan untuk melakukan pendakian yang berjarak ribuan kilometer dari rumahnya. Berdua. Hanya dengan anak lelakinya.

Mungkin dia patah hati, pikiran itu terlintas di benak. Saya mengenali pandangan mata serta raut wajah yang begitu mirip dengan ekspresi Di Nozzo Sr. ketika ditinggal pergi kekasihnya.

DiNozzo Jr dan Sr. :P (taken from: buddytv)
DiNozzo Jr dan Sr. :P (taken from: buddytv)

Seperti kata si pemandu, jalur pendakian setelah Pos Bunder memang cenderung datar. Meski begitu, tetap saja kami berhenti hingga dua sampai tiga kali. Permasalahan kali ini adalah isi ransel yang terlalu berat.

Jalur pendakian kali ini berbatasan langsung dengan jurang di sebelah kanannya. Jadi, kami berusaha untuk tetap hati-hati meski jalan termasuk agak lebar. Salah langkah sedikit, bisa masuk jurang.

Membayangkannya saja sudah cukup membuat merinding. Terlebih ketika saya mendengar seseorang memanggil-manggil dari kejauhan. Mungkin sedang lapar, lelah, atau saya memang terlampau parno, saya mengira tengah mendengar suara gaib.

Suara itu berasal dari ibu-ibu paruh baya yang kelimpungan mencari suaminya yang tiba-tiba menghilang. Beberapa pendaki mengerumuninya, termasuk Mas Pri. Ada yang beranggapan mungkin suaminya berjalan lebih dulu. Tapi si ibu berkata itu tidak mungkin, suaminya tidak kuat jalan.

Seorang perempuan berbisik pada temannya, mengatakan bahwa mungkin suami si ibu jatuh ke jurang. Jangan berjalan terlalu ke pinggir kanan. Namun sekembalinya ke Paltuding beberapa jam sesudahnya, tidak ada cerita beredar mengenai hal tersebut.

Setelah berhasil mencari guide untuk mengantarkan si ibu turun, Mas Pri kembali bergabung. Kami melanjutkan perjalanan dengan harapan bisa sampai di bibir kawah sebelum sunrise. Sepanjang perjalanan terdengar suara bergemuruh dari balik gunung. Ada kekhawatiran akan turunnya hujan, namun ternyata itu hanya suara angin yang menderu.

Pukul lima kurang beberapa menit, akhirnya perjuangan melelahkan itu terbayar. Kami sampai di pinggir Kawah Ijen. Tidak ada blue fire, karena konon agar mendapatkan fenomena yang hanya ada dua di dunia itu, kami harus sampai pukul empat.

Sayangnya, tujuan utama untuk melihat sunrise pertama di Pulau Jawa pupus. Awan mendung masih menggelayut di langit.

Suasana Kawah Ijen waktu itu begitu ramai. Saking ramainya, saya harus mengurungkan niat untuk berfoto di dekat tangga yang digunakan para penambang belerang untuk turun ke danau kawah.

Kawah Ijen yang lagi ngehit itu. (dok. pribadi)
Kawah Ijen yang lagi ngehit itu. (dok. pribadi)

Meski belum puas mengambil foto dan menikmati alam sekitar, kami terpaksa turun terlebih dahulu karena si Febry mulai kebelet pipis. XD

Sepanjang jalan dari puncak menuju Pos Bunder, tidak ada semak-semak yang cukup tinggi. Di situ kadang saya merasa iri pada kaum Adam yang bisa seenaknya buang air kecil seenak jidat tanpa merasa risih.

Perjalanan turun sama tidak menyenangkannya dengan saat mendaki tadi. Jika saat mendaki betis terasa sakit, sekarang giliran lutut yang harus bekerja ekstra. Beberapa pendaki bahkan ada yang terpeleset berjamaah. Membuat saya sedikit girang, karena pendaki yang terpeleset selalu berbicara tanpa henti dengan suara keras.

Beberapa kali saya memutuskan berhenti hanya untuk memotret pemandangan di sekitar. Cantik. Meski waktu itu awan mendung masih saja menghalangi sinar matahari, tapi semua begitu memesona. Beberapa gunung bahkan tertutup kabut tebal, membuat saya tersenyum sendiri karena membayangkan seekor naga muncul dari dalamnya. :))

Mendung sih, tapi tetap cantik. (dok. pribadi)
Mendung sih, tapi tetap cantik. (dok. pribadi)

Kami akhirnya menginjakkan kaki di Paltuding kira-kira pukul setengah delapan. Paltuding hari ini lebih mirip pasar dibandingkan titik awal pendakian. Mungkin karena hari itu merupakan hari terakhir dari libur panjang.

Persoalan baru muncul. Rencananya, Mas Pri akan mengantar hingga pinggiran Banyuwangi kota. Namun karena sedikit tergesa, ia justru lupa membawa STNK. Lagi pula, sepertinya terlalu berisiko membonceng dua orang meski hanya sampai pinggiran kota.

Karena sudah membaca berbagai referensi sebelumnya, kami berencana untuk ikut truk belerang sampai Desa Licin. Truk belerang baru berangkat pukul sebelas siang. Info dari sopir sewaan di sana menyebutkan tukang ojek dari Licin ke kota sudah jarang dan tarifnya mahal. Rencana berubah lagi.

dok. pribadi
dok. pribadi

Mas Pri menawarkan untuk menginap semalam lagi, dan pulang keesokan harinya menggunakan angkutan yang sama seperti dari Bondowoso menuju Blawan. Tapi saya menolak tawaran itu, karena Febry akan pulang besok pagi dengan menggunakan kereta.

Beruntung, seorang sopir sewaan menawarkan jasanya untuk mengantar kami hingga depan pintu gerbang Taman Nasional Baluran. Dia minta ongkos sebesar Rp200.000,00 untuk dua orang. Awalnya, kami menolak. harga itu terlalu mahal, meski jarak Ijen-Baluran tak bisa dibilang dekat dan langkanya transportasi umum ke sana.

Setelah menawar, harga itu jatuh menjadi Rp150.00,00 atau Rp75.000,00 per orang. Sedikit lebih mahal daripada perencanaan biaya yang kami anggarkan jika berganti-ganti moda transportasi, namun jauh lebih hemat waktu. Kami menyetujuinya, meski harus duduk berhimpitan berdua di kursi penumpang bagian depan hingga Pelabuhan Ketapang.

Pukul delapan, mobil yang kami tumpangi meninggalkan kawasan Paltuding. Menuju Baluran yang juga menyisakan sebuah kenangan tak terduga lainnya. [L]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s