Lelaki Bermata Kelabu


kover-majalah-femina-26-2015
Kaver Femina edisi F.26

Dimuat di Femina edisi F. 26, 27 Juni – 3 Juli 2015

Aku langsung menyukai lelaki itu sejak pertama kali bertemu.

Senyumnya terkesan pelit, namun tetap memesona. Rambutnya dipotong cepak a la militer, yang kupikir akan tumbuh ikal jika saja dibiarkan tumbuh sedikit panjang. Dan dengan mata kelabu yang terkesan sendu, dia mengingatku pada Sean Renard—karakter yang diperankan Sasha Roiz dalam serial televisi Grimm.

Tampan, sungguh. Aku langsung membayangkan bagaimana sosoknya dua puluh empat tahunan lalu, pasti tak sedikit wanita yang menaruh hati dan mencoba menarik perhatiannya.

Dia orang pulau, begitu yang dikatannya padaku. Hvar, salah satu pulau cantik di lautan Adriatik. Dejan Mestrović. Itu namanya.

‘Seperti Ivan Meštrović?’ sahutku seketika.

Lelaki itu tertawa kecil. Pertama, dia mengejutkanku dengan kemampuan berbahasa Indonesia yang terbilang sangat lancar untuk ukuran orang asing. Dan kedua, tawanya. Seolah aku pernah melihatnya di suatu tempat, lama sekali.

‘Kamu tahu dia?’

Aku menganggukkan kepala. Sebenarnya hanya sedikit sekali yang kutahu. Beberapa waktu terakhir aku tengah tergila-gila pada negeri di tepian Laut Adriatik itu. Kutunjukkan padanya sebuah buku yang baru kubeli lusa kemarin, yang membuatku mencuri-curi waktu untuk membacanya saat tengah bekerja. Mengatakan bahwa aku memiliki satu keinginan besar untuk pergi ke sana tahun depan, mengitari kompleks Diocletian Palace dan Old Town seharian.

‘Lalu, melongok patung Grgur Ninski,’ tutupku dengan menutupi rasa malu.

‘Kamu percaya?’

Bahuku terangkat. Entahlah. Percaya atau tidak, kupikir aku membutuhkannya. Keberuntungan. Ada sebuah kepercayaan di masyarakat sekitar—begitu menurut buku yang kubaca—bahwa menggosok jari kaki patung karya Meštrović itu dapat mendatangkan keberuntungan. Walau mungkin, aku membutuhkan lebih dari sekadar itu.

Yang mengejutkan, dia berkata pernah melakukannya beberapa minggu sebelum menempuh belasan jam perjalanan udara ke tempat ini. Meski baginya itu hanya semacam ritual bodoh yang selalu dilakukannya setiap berkunjung ke Split.

‘Saya kangen kota ini,’ jawabnya ketika kutanya apa yang membawanya kemari.

Begitulah, yang kutahu rindu terkadang sudah cukup menjadi motivasi seseorang untuk melakukan sesuatu hal.

*

Berbincang dengannya terasa begitu menyenangkan, seolah kami ada sepasang kawan lama yang telah saling mengenal.

Seringkali dia membuatku iri dengan cerita-cerita semasa dia muda dulu. Bagaimana dia mengambil gap year selepas tamat SMU, berkelana tanpa tujuan yang jelas dan menjejak tanah baru yang semula hanya dia tahu dari selembar peta dunia.

Aku ingat aku pernah dan masih memiliki mimpi serupa. Suatu hari, yang entah kapan, memilih menjalani career break dan melakukan perjalananku di negeri asing. Mulanya, Kroasia. Demi jari kaki Grgur Ninski.

Hanya saja, mimpi itu sementara harus kukubur sejak kusampaikan niatanku pada Bunda pada ribuan malam yang telah lalu. Dia hanya memberiku sebuah senyum kecut, tanpa kata-kata pembangkit semangat seperti biasa. Seolah mimpiku sama seperti cita-citaku menjadi astronot pertama Indonesia saat duduk di bangku Sekolah Dasar.

‘Bunda nggak setuju, ya?’

Lagi, Bunda tak menjawab. Hingga akhirnya aku benar menyerah mendapatkan restu darinya, dan memilih masuk kamar.

*

‘Ke alun-alun lagi, Mai? Nggak langsung pulang?’

Dewi menemaniku berjalan hingga alun-alun sebelah utara. Sedari tadi dia bercerita tentang gosip-gosip yang beredar di lingkungan tempat kerja kami. Para SPG dan SPB mulai mempergunjingkanku, pertemuanku dengan lelaki paruh baya itu, hingga hubunganku dengan Danang.

‘Kamu nggak kesel, Maia?’

Ketika seseorang memanggilku bukan dengan nama panggilan, aku tahu dia benar-benar serius.

Aku tidak ingin peduli. Toh, aku dan Danang masih baik-baik saja. Kami masih sering bertemu, makan malam bersama, melakukan hal remeh bersama. Hanya saja, ada yang sebenarnya membuatku merasa takut. Ketakutan yang selalu menghantui sejak aku mengenal memasuki dunia remaja.

‘Kamu sudah menikah?’

Biasanya, aku selalu merasa risih membicarakan persoalan itu dengan orang lain. Beberapa orang hanya sekadar ingin memenuhi rasa ingin tahunya, kemudian mulai membanding-bandingkan kehidupan satu sama lain.

‘Saya takut.’

Kuremas ujung rokku, seperti yang biasa kulakukan saat sedang gelisah. Mata kelabunya menatapku intens. Dia menungguku melanjutkan perkataanku, satu hal yang sedikit enggan kulakukan, meski akhirnya kukatakan juga kepadanya. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku merasa nyaman berbagi. Hingga aku melupakan kenyataan bahwa aku baru mengenalnya sejak empat hari lalu.

‘Kalau kamu terus-menerus merasa takut menikahi orang salah, semakin lama rasa takut itu akan semakin membesar dan kamu tidak akan bisa memercayai lelaki mana pun.’

Itu persis seperti yang pernah dikatakan Bunda dua tahun lalu, tepat di ulang tahunku yang kedua puluh lima.

*

Dejan bilang, hari ini dia tidak akan menunggu di tempat biasa. Ada beberapa hal yang harus diselesaikannya.

‘Jadi, kamu sudah ngasih Danang jawaban?’

Dewi dan aku sedang menikmati makan siang kami di salah satu gerai cepat saji tak jauh dari tempat kami bekerja. Semalam, aku memberikan jawaban. Bahkan Danang terlihat sedikit tak percaya ketika aku menyampaikannya. Barang kali memang sudah waktunya mengakhiri rasa canggung yang selalu hadir beberapa minggu terakhir.

‘Trus kapan?’

Aku tergelak. Ini sudah kelima kalinya aku mendengar pertanyaan serupa. ‘Belum tahu. Bunda bilang jangan terburu-buru. Nunggu semua rada adem.’

‘Akhirnya.’

*

006_001_1008_pic
Ilustrasi cerpen Lelaki Bermata Kelabu

Ada kalanya aku membenci Kota Malang. Malam hari yang diguyur hujan, berpadau dengan suasana akhir pekan, membuat jarak antara tempat kerjaku di pusat kota dengan Sawojajar tak ubahnya jarak Malang-Blitar.

Bunda menelepon dan memintaku untuk pulang cepat hari ini. Ada hal yang ingin dia bicarakan. Kupikir, mungkin ini ada hubungannya dengan Danang dan jawaban yang telah kuberikan. Tapi saat kutanya lelaki itu justru tak tahu-menahu.

Kulepaskan helm perlahan, dan mengibaskan sisa air yang menempel di jas hujanku. Saat itulah, aku melihatnya bersama Bunda. Duduk berlutut sembari menggenggam tangan perempuan yang begitu kukasihi. Mata keduanya tampak memerah, dengan pipi yang basah karena air mata.

Seumur hidupku, baru kali ini aku melihar seorang pria dewasa menangis. Raut wajahnya ketika meliahtku terlihat begitu penuh penyesalan.

Seketika, aku tahu apa yang terjadi. Bunda tak perlu menjelaskan semuanya. Semenjak bekerja menjadi customer service di salah satu bank swasta,aku belajar mempelajari setiap gerak-gerik manusia. Ini sudah cukup menjawab setiap rasa nyaman dan aman setiap aku berada di dekatnya.

Ada begitu banyak hari yang kulewatkan untuk bermimpi bertemu dengannya. Ada banyak waktu yang kubuang hanya untuk berpikir bahwa lelaki-lelaki yang baru saja kuhadapi di meja CSO atau mereka berpapasan denganku di jalan, adalah dia.

Tapi bukan lelaki bermata kelabu yang kepadanya kuceritakan ketakutan serta mimpiku. Bukan lelaki yang menceritakan tentang negeri jauh yang kuimpikan beserta mitos-mitosnya. Bukan lelaki yang dengannya aku merasa satu jam setiap hari adalah waktu yang terlampau singkat.

‘Bunda sudah maafin dia, Nduk.’ Bunda mengelus kepalaku lembut. Aku tak tahu apa Bunda berkata benar. Hari-hari yang dilaluinya selama dua puluh tujuh tahun terakhir pastilah tidak mudah. Membesarkanku sendiri. Menolak lamaran lelaki baik hati untuk menikahinya. Bunda cuma mau kasih cinta Bunda ke kamu. Itu jawabannya. Dalam hati, aku mengira mungkin Bunda masih mengharapkannya kembali.

‘Bunda pernah merasa marah, sedih, kesal, dan berjuta perasaan yang nggak bisa Bunda jelaskan. Semuanya emang nggak mudah. Tapi itu sudah berlalu,Nduk. Bunda sudah berubah. Sekarang Bunda merasa lebih kuat.’

Keesokan harinya, aku datang ke Hotel Tugu. Kurapikan pakaianku yang sedikit basah karena hujan.

Dejan memesankan secangkir caramel macchiato hangat untukku. Dia masih memesona seperti halnya hari pertama itu. Tapi kali ini kepalanya

tertunduk, membenamkan wajahnya yang gelisah dan mungkin sedikit malu.

Kutarik napasku dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Dengan ragu, kugamit tangannya yang besar itu dan meletakkan telapak mungilku di dalamnya.

‘Hai, Ayah.’ Dia mengangkat kepala, memperlihatkan raut wajah lega. Senyumnya mengambang ragu.

Setiap orang selalu memiliki kesempatan kedua. Sekalipun itu takkan menjanjikan penawaran yang sama. [L]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s