Kembali ke Sikunir


“Mbak, mataharinya sudah tutup. Turun saja.”

Telaga Cebong dan refleksi gunung-entah apa namanya. (dok. pribadi)
Telaga Cebong dan refleksi gunung-entah-apa-namanya. (dok. pribadi)

Jika ada alasan mengapa saya tidak bisa melupakan kunjungan kembali ke Sikunir sebulan lalu, salah satunya adalah pertanyaan atau pernyataan bernada sarkatis yang saya dengar dari orang lain. Tidak hanya yang terlontar dari mulut, tentu saja. Tapi juga dari pandangan mereka yang melayangkan tatapan aneh kepada kami.

Kami di sini adalah orang-orang yang melawan arus. Ketika kebanyakan orang, dengar-dengar hampir mencapai seribu orang, menuruni bukit Sikunir, kami justru memilih untuk naik.

Waktu sudah menunjukkan pukul enam lebih, matahari sudah naik. Saya dengan ketiga teman saya (Febri, Isma, dan Dewi) memang tidak mengejar matahari terbit. Setelah berjalan hampir sepuluh kilo dari Dieng Kulon ke Sikunir, dengan beberapa kali berhenti karena lelah, sunrise bukan lagi tujuan utama.

Menangkap secuil sunrise ditengah perjalanan. (dok. pribadi)
Menangkap secuil sunrise ditengah perjalanan. (dok. pribadi)

Beberapa kali kami terpaksa berhenti ketika mereka yang turun tidak mau mengalah. Tak jarang juga saya meringis ngeri dan mengusap dada ketika beberapa di antara mereka memilih keluar jalur dan menuruni tebing curam saking tidak sabarnya. Saking kesalnya, saya sampai mengeluh ke teman dengan mengatakan bahwa mereka itu tidak pantas dijadikan pasangan hidup. Dalam pikiran saya cuma satu: mau turun gunung saja tidak sabaran, apalagi menghadapi seseorang dengan watak yang berbeda. Terdengar sadis, ya?

Jadi ketika akhirnya sampai di atas, dengan lubang hidung penuh debu, saya sedikit bisa bernapas lega. Kekesalan saya mulai sedikit menguap ketika melihat sekitar.

dok. pribadi
dok. pribadi

Ada yang berbeda dengan Sikunir. Seingat saya, setahun lalu, jalan setapak yang digunakan untuk sampai puncak hanya cukup dilalui satu orang saja. Sekarang, jalur itu berubah lebih lebar, dan menggunakan jalur yang berbeda, lengkap dengan pengaman berupa batang bambu dan besi di pinggir.

Dan tentu saja, sensasinya… Sampai di Sikunir ketika hari sudah terang sangat berbeda dengan ketika menunggu matahari muncul perlahan dari timur. Mana yang lebih cantik, saya tidak bisa menjawab. Yang pasti, ketika ada orang bertanya apakah saya menyesal datang terlalu siang, jawabannya adalah tidak.

Dengan lanskap yang terlihat jelas, sangat jelas malahan, saya justru bersyukur tidak mencapai tempat tersebut sebelum matahari terbit. Satu, karena lautan manusia yang justru akan membuat saya stress. :P Dan kedua, saya jadi tahu panorama macam apa yang saya lewatkan tahun lalu setelah tergesa turun sebelum pukul enam pagi.

dok.pribadi
Cocok buat berjemur. :P (dok.pribadi)
DSC02136
Foto di tempat yang sama setahun lalu. (dok. pribadi)

 

 

 

 

 

 

 

Jadi, sudah paham ‘kan mengapa saya tidak bisa memilih mana yang lebih indah? :P

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s