Empat


“Kamu pikir kenapa kursi punya kaki empat?” Tiba-tiba saja, perbincangan dengan mantan atasan saya empat atau lima tahunan lalu itu kembali melintas di pikiran.

Sebenarnya bukan tanpa sebab. Sejak dua bulan lalu, ketika saya memutuskan untuk mengikuti kelas menulis cerita dewasa, angka empat jadi akrab di telinga saya. Jadi, awalnya, ketika lulus seleksi untuk masuk kelas, dan dimasukkan ke grup rahasia di facebook, saya sedikit kaget. Empat lagi.

Beberapa bulan sebelumnya, saya juga mengikuti kelas menulis yang sama. Bedanya, di kelas menulis pertama itu saya belajar membuat cerita anak. Merah Jambu Anak 4. Dan, iya, kelas dewasa yang masih saya ikuti sampai sekarang ini bernama Merah Jambu Dewasa 4.

Semasa SMA dulu, saya beranggapan kalau saya berjodoh dengan angka lima. Sampai sekarang pun masih. Namun, beberapa kali, ketika saya melewatkan angka tersebut, pilihan itu selalu jatuh pada satu angka sebelumnya.

Apa sekarang saya berjodoh dengan angka empat? Nggak tahu. Bukankah hal seperti ini sering kali dianggap sebagai kebetulan semata? Dan bodohnya, saya tidak percaya pada kebetulan. Dan yang paling menyebalkan lagi, saya kerap kali memikirkan hal yang sebenarnya kurang penting. Hehe…

Jadilah, kemarin, saya memikirkan semuanya kembali. Tentang angka empat ini. Serius, bukannya saya kurang kerjaan. Tapi karena saya sedang puyeng nulis cerbung, setelah hampir setahun tidak menulis lebih dari sepuluh halaman. Enggak, saya tidak sedang membela diri. Duh!

Selama proses berpikir kemarin, saya jadi ingat salah satu cemceman saya, Jan Vertonghen. Ketika masih di Ajax dulu, dia memakai nomor punggung 4. Dan nostalgia itu dimulai. Dari pemakai nopung 4 di klub yang sama sebelum dia, ehem. Dan berakhir ke lima belas tahun lalu. Christian Chivu.

Bicara nopung empat di Ajax, biasanya dipakai salah satu bek mereka, yang kebetulan merupakam tokoh sentral di klub tersebut. Berjiwa pemimpin dan blablabla. Makanya, hampir semua pemain bernopung empat di sana, pernah jadi cemceman saya. *wait, what?* 😂

*

Empat itu menunjukkan sesuatu yang kokoh. Begitu menurut mantan atasan saya. Tiga biasanya kurang kokoh, apalagi dua. Dan lima biasanya akan terlihat aneh, bicara soal kaki kursi.

Entahlah. Saya tidak tahu kenapa saya menulis ini. Mungkin karena saya benar-benar puyeng. Haha :P

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s