Rumah Kaca


IMG_20151206_174844[1]

Mungkin akhir bulan lalu merupakan hari-hari paling hibuk tahun ini. Ketika harus mempersiapkan tetek-bengek Pilbup Jember di tingkat kelurahan, saya juga menargetkan diri untuk mengejar tenggat waktu Lomba Cerbung Femina 2015 (yang saya sukses tidak berpartisipasi)

Ide cerita ini datang tiba-tiba, ketika saya merasa ingin menulis sesuatu tentang labirin. Berhubung tidak ingin menulis cerita dewasa karena mabok cerbung, dan saya juga tengah mempersiapkan diri untuk mengangkat labirin dalam tulisan super panjang ,saya memutuskan untuk menulis cerita anak. Kebetulan juga, saya teringat masa kecil saya ketika hanya bisa memandang iri pada anak-anak yang memasuki rumah kaca di Malang dulu. Dulu sekali. :P

Setelah saya baca ulang, saya merasa tidak pede untuk mengirimkannya ke BOBO. Ceritanya terlalu ringan. Haha… Jadilah saya mengirimkan naskah ini ke SoloPos tanggal 26 November lalu. Alhamdulillah, dimuat hari Minggu kemarin.

Rumah Kaca

Oleh: Leanita Winandari

 

“Kamu belum pernah ke rumah kaca?” Mata Eka membulat lebar ketika mengatakan hal itu.

Vina mengangguk. Ia merasa malu. Rasanya, di kelas mereka hanya Vina yang belum pernah masuk wahana rumah kaca di sebuah pusat perbelanjaan di kota mereka. Akhir-akhir ini teman-temannya selalu membicarakan wahana yang baru dibuka awal bulan lalu itu.

“Rumah kaca?” tanya Ibu sambil mengernyitkan dahi.

“Bareng Kak Putri kok, Bu,” pinta Vina dengan setengah merajuk.

Kata Eka, wahana rumah kaca itu benar-benar menyenangkan. Ada banyak pantulan bayangan kita di cermin-cermin yang dipasang di dalam. Yang harus dilakukan hanyalah satu, mencari jalan keluar yang tepat agar sampai di pintu keluar.

Hampir sama seperti rumah hantu.

“Tidak perlu malu meski belum pernah ke sana, Vin. Lagipula, bukannya waktu masuk rumah hantu kamu langsung minta keluar,” ujar Bapak menimpali.

Tapi rumah kaca berbeda, begitu kata Vina. Tidak ada hal menyeramkan di dalamnya. Hanya ada kaca dan kaca.

*

“Kamu yakin, Vin?” tanya Ibu sekali lagi. “Kalau tidak yakin, mending cari yang lain saja. Tidak usah memaksakan diri cuma karena penasaran.”

Sekali lagi, Vina mengangguk mantap. Mereka pergi berempat. Bapak, Ibu, Kak Putri, dan Vina. Dengan semangat, Vina segera berlari menuju loket penjualan tiket masuk rumah kaca.

Hanya lima orang yang diperbolehkan masuk. Kloter selanjutnya baru diperbolehkan masuk setelah lima orang sebelumnya sudah berhasil menemukan pintu keluar.

Seperti kata Eka, ruangan itu terbuat dari kaca. Sekat-sekatnya terbuat dari kaca, lantainya juga dilapisi oleh kaca tebal.

Vina tersenyum sendiri melihat bayangannya ada di mana-mana. Seolah ada seribu Vina, Kak Putri, Bapak, dan Ibu di sana.

Bersama-sama mereka menyusuri lorong-lorong kaca. Mudah sekali, pikir Vina. Hanya ada beberapa persimpangan, tapi sepertinya hampir semua lorong di sana menuju pintu keluar.

Tiba-tiba, ketika baru sampai di lorong ketiga, Vina merasa gelisah. Badannya mulai berkeringat dan jantungnya berdegup kencang.

“Kamu tidak  apa-apa, Vin?” tanya Ibu setelah melihat muka Vina memucat.

Disodorkannya sebotol air mineral pada Vina. Namun keadaan Vina tak kunjung membaik. Tubuhnya gemetar, dan rasa pusing mulai terasa. Perutnya pun kini terasa mual.

“Kita cepat keluar dari sini,” seru Bapak sambil merangkul Vina.

Dengan langkah setengah diseret Vina berusaha mengimbangi langkah Bapak yang besar-besar.  Pintu keluar sudah terlihat, membuat Ibu berseru lega.

Tapi Vina sudah tidak kuat lagi. Tubuhnya semakin lemas. Lalu, ia terjatuh. Hal terakhir yang Vina lihat adalah puluhan bayangannya di permukaan kaca.

*

“Sudah baikan?” tanya Ibu sambil tersenyum.

Vina mengerang perlahan ketika ia mencoba untuk duduk. Rasa sakit di kepalanya sudah berkurang. Sekarang ia sudah berada di tempat tidurnya sendiri dan sama sekali tidak ingat apa-apa setelah kejadian di rumah kaca.

“Vina tadi pingsan,” kata Ibu lembut.

“Padahal Vina makan tepat waktu,” sahut Vina dengan suara lirih. Ia takut Ibu atau Bapak akan memarahinya jika maag yang dideritanya kambuh lagi.

Seolah tahu apa yang Vina pikirkan, Ibu tersenyum dan mengusap kening Vina lembut. Lalu berkata, “Bukan. Maag Vina tidak kambuh, kok.”

“Terus?” tanya Vina penasaran. Rasa mual tadi sama seperti yang Vina derita ketika asam lambungnya naik.

“Vina menderita klaustrofobia.”

Kening Vina berkerut mendengar perkataan Ibu. “Clauss… Santa Clauss?”

Ibu tertawa. Membuat Vina cemberut saking sebalnya.

“Klaustrofobia,” kata Ibu perlahan, seperti mengeja. “Ketakutan akan berada di sebuah tempat yang sempit dan tertutup.”

Vina memperhatikan Ibu dengan seksama. Ia benar-benar tidak tahu ada ketakutan aneh semacam itu.

“Vina ingat kejadian waktu di rumah hantu? Atau, ketika naik lift di kantor Bapak?”

Waktu itu ia juga merasa pusing, mual, dan gemetar. Vina pikir itu karena ia takut akan hantu, dan pertama kali ia naik lift. Fobia ada banyak macamnya, kata Ibu. Ada yang takut berlebihan pada ketinggian, serangga, ular, dan lainnya.

“Besok siang Bapak akan mengajak kamu ke tempat Om Feri untuk konsultasi,” kata Ibu sambil membantu Vina kembali berbaring.

Vina mengangguk. Ia kembali teringat perkataan Ibu tadi siang. Tidak perlu memaksakan diri hanya karena penasaran. Apalagi Vina sekarang tahu, ia sama sekali tidak cocok berada di tempat tertutup dan sempit.

Seharusnya, Vina mendengarkan Ibu. [L]

Dimuat di Solo Pos, 6 Desember 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s