Tentang Cerita Dunia Remaja


Cerpen Pertama di Majalah Gadis edisi 25 tahun 2016
Cerpen Pertama di Majalah Gadis

Menulis cerita remaja selalu menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Jika disuruh memilih di antara tiga (cerita dewasa, cerita remaja, dan cerita anak), cerita remaja selalu berada di urutan paling buncit. Karenanya, awal 2016 saya sudah bertekad untuk bisa menulis minimal satu cerpen remaja. (Iya, cuma satu!) 

Kenapa? Saya juga bingung. Padahal, jika melihat ke belakang, masa remaja saya juga tidak buruk-buruk amat–cenderung indah malah. (Oh I always remember all those moments: cangkrukan di koridor sekolah, ketawa-ketiwi dengan hebohnya, jajan dengan uang patungan kemudian makan keroyokan, dan sesekali godain adek kelas yang ganteng :D) Lucunya, kemampuan menulis cerita remaja yang kacrut ini juga berbanding terbalik dengan kegemaran saya membaca buku-buku Young Adult.

Pernah saya mengeluhkan tentang kekacrutan saya menulis cerrem, salah satu teman saya justru tertawa. Dan ketika tahu saya sedang serius, dia hanya berkata bahwa mungkin (hanya mungkin) saya menerapkan standar terlalu tinggi untuk setiap tulisan remaja saya karena buku-buku YA yang saya baca. Terlepas dari benar atau tidaknya, saya mengamini kalau inilah yang tengah terjadi. Dan ini justru membuat saya semakin malas dan sering menyerah ketika menulis cerita remaja. Duh!

Jadi, ketika akhir Agustus lalu di salah satu kelas menulis yang saya ikuti melempar tantangan untuk menulis cerpen remaja dengan sasaran Majalah Gadis, saya langsung down. Menulis naskah Percikan (cerita mini) untuk majalah yang sama saja sudah struggling, apalagi menulis cerpen yang panjangnya 1800-2400 kata. (Sekadar info, standar cerpen Gadis cenderung lebih tinggi dibandingkan majalah remaja yang lain.) Tapi karena sudah sering absen di kelas, dan demi memenuhi resolusi di awal tahun, saya pun bertekad untuk menyelesaikan tantangan.

Waktu itu, tema yang diminta adalah kelainan atau penyakit, yang mengharuskan saya harus riset penuh. Setelah mendapatkan tema yang akan diangkat (ini akan saya ceritakan di lain waktu), tenggat dua minggu  yang diberikan justru lebih banyak saya habiskan untuk riset. Hingga Kamis minggu kedua, di saat teman-teman yang lain sudah banyak yang setor, saya belum nulis sepatah kata pun. Alasannya, saya belum menemukan kalimat pertama yang pas. (Kebiasaan buruk, selama ini saya sering muter-muter nggak jelas demi kalimat pertama. Jika dirasa belum dapat yang pas, maka tulisan saya sering kali tidak jalan.)

Saya pun semakin stress keesokan harinya karena masih buntu juga. Tapi, menjelang Jumat sore (DL Jumat pukul 24:00), tiba-tiba saja kalimat pertama yang saya cari terlintas begitu saja. Buru-buru saya menghidupkan laptop, mengetik nyaris  1000 kata hingga menjelang jam pulang kantor, kemudian melanjutkannya selepas isya’ hingga nyaris pukul sepuluh malam. Setelah membaca sekali lagi, saya segera menyetornya di kelas. Hanya 1-2 jam menjelang jam Cinderella. (y)

Ngebut? Iya. Jangan ditanya bagaimana perasaan saya. Lega sekaligus mual karena harus menulis sekitar 2000 kata demi genre yang saya musuhi selama ini. But surprisingly, I did enjoy it–writing teenage short story. Dan semakin bisa tidur nyenyak ketika teman-teman bilang menyukai cerita saya dengan dua catatan minor yang lupa tidak saya tuliskan. (Maklumlah, I was in hurry. Hehe :P)

Saya mengirimkan cerita itu di awal September, dan mendapat jawaban membahagiakan sebulan setelahnya bahwa cerpen saya menunggu antrean muat. Dan Kamis 8 Desember lalu, editor Gadis (Pak Farick Ziat) menandai saya dalam status facebook beliau dan sebuah postingan di grup Taman Fiksi perihal cerpen yang ternyata dimuat di Gadis edisi terbaru. Thanks God! :’)

Kaver Gadis edisi 25 tahun 2016 dengan cerpen saya di dalamnya.
Kaver Gadis edisi 25 tahun 2016 dengan cerpen saya di dalamnya.

Ini tak ubahnya sebuah kejutan bagi saya. Karena, selain sudah melampaui tantangan terbesar, ini juga karya pertama saya yang dimuat media sepanjang tahun 2016. Padahal, ketika diberi kabar akan dimuat, saya mengira cerpen ini akan nongol sekitar awal tahun 2017.

Jangan ditanya betapa bapernya saya karena harus ‘puasa’ nongol di media nyaris setahun. I was thinking to give up, anyway. Tapi, setelah ini, saya jadi sadar (lagi) kalau mimpi ini layak buat diperjuangkan.

Semoga karya ini menjadi pembuka jalan untuk karya-karya selanjutnya. Dan tentu saja, membuat saya lebih semangat memenuhi resolusi menulis untuk tahun depan–yang sungguh membuat saja terkejut sendiri ketika membacanya kembali. [L]

P.S: untuk cerpen, bisa dibaca di sini :)

Advertisements

One thought on “Tentang Cerita Dunia Remaja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s