Yang Tersisa dari Big Bad Wolf Books Surabaya


BBW Surabaya
BBW Surabaya

Ketika mendapat info Big Bad Wolf Books bakal digelar di Surabaya pada Oktober lalu, saya langsung heboh saking girangnya. Maklum saja, ketika BBW di Tangerang enam bulan sebelumnya, saya cuma bisa gigit jari.

Maka, saya pun membagi info tersebut ke beberapa teman. Dua orang teman sekelas di Merah Jambu Gabungan (Mbak Eni a.k.a Mbak BE Priyanti dan Istii, yang kebetulan sama-sama berdomisili di Jawa Timur). Dan kami pun sepakat untuk berburu buku bersama-sama sekalian kopdaran. Yeay!

Rencana pun disusun jauh-jauh hari, dan kami sepakat memilih tanggal 30 Oktober untuk berburu buku. Saya sempat berkata kalau untuk event BBW tersebut saya cuma menyediakan budget sejuta termasuk transport. Dan spontan teman-teman di grup menulis langsung meledek. Hehe :P

Karena masih ada waktu sekitar lebih kurang sebulan sebelum hari H, saya pun memutuskan menabung. Tapi,  dua minggu sebelum ke Surabaya, seperti biasa saya jalan-jalan ke kota. Dan… sukses memborong buku-buku obralan GPU di halaman parkir Gramedia Trunojoyo. Eh hanya 100k lebih sedikit, sih.

Sudah? Nope! Justru setelahnya lebih parah. Kunjungan ke Roxy Square malah jadi malapetaka bagi budget berburu di BBW. Iseng-iseng, kala itu saya masuk Gramedia di sana. Dan mata semakin hijau ketika melihat buku-buku anak diobral. Tanpa berpikir dua kali, saya langsung memborong dengan nominal nyaris tiga kali lipat yang dihabiskan di Gramedia Trunojoyo. Duh!

Akhirnya, dengan budget saldo ATM Mandiri yang sudah saya limit sejuta, saya berangkat di Minggu pagi nan sendu dengan hati gamang karena takut kalap. Sekaligus takut buku-buku yang ada di dalam wishlist yang sudah saya buat berhari-hari sudah habis.

Sesuai saran Mbak Eni, saya turun di Stasiun Sidoarjo dan dijemput oleh beliau dan suami. Syukurlah, waktu itu cuaca sedang bersahabat. Tidak hujan, namun juga tidak begitu panas. Dari stasiun kami langsung meluncur ke Terminal Purabaya untuk menjemput Istii dan dua saudaranya yang sudah sampai nyaris sejam sebelumnya.

Awalnya, saya berpikir kalau saya bakal lebih banyak diam pas ketemuan. (Eh, aslinya saya memang tidak banyak bicara). Nyatanya, sejak awal ketemu Mbak Eni, ternyata saya justru merasa nyaman mengobrol meski itu baru pertama kali kami bertemu.

Jadilah, ketika kami terjebak macet di sepanjang jalan dari Purabaya sampai JX, kami bicara banyak. Sharing ini-itu, meskipun pada akhirnya bahasan kami tidak jauh-jauh dari dunia menulis. (Sssttt… saya bahkan sempat curhat soal kebaperan saya karena belum ada tulisan yang dimuat di media sepanjang tahun ini). :D

Merah Jambu Gabungan mini Gathering (ki-ka: me, Mbak Eni, dan Istii)
Merah Jambu Gabungan mini Gathering (ki-ka: me, Mbak Eni, dan Istii)

Sesampai di JX, kami pun langsung berpencar. Karena sudah mempelajari denah sebelumnya, saya langsung bergegas menuju rak non-fiksi. Yeah, you heard read it right. Tujuan utama saya ke BBW sebenarnya untuk memborong buku-buku National Geographic Traveler dan satu buku yang lama saya idam-idamkan: Human of New York Stories. Jangan tanya kenapa, tentu saja karena harga normalnya yang mahal dan membuat saya merasa sayang mengeluarkan isi dompet.

Sayangnya, setelah berkeliling sampai dua kali, penampakan Human of New York Stories tidak kunjung saya temukan. Dan buku-buku NG Traveler yang ada hanya tersisa NGT Thailand dan Cambodia.

Merasa lelah dan sedikit galau karena buku idaman tidak ada, saya berjalan ke rak novel Young Adult (my favourite!). Baru berjalan sebentar, saya sudah melihat penampakan Days of Blood and Starlight, buku kedua seri Daughter of Smoke and Bone karya Laini Taylor. Saya mulai heboh di dalam hati. Meski sudah membacanya (versi terjemahan dan asli via ebook), saya sudah memantapkan hati untuk koleksi buku fisik versi English. Tapi… (why there is always ‘buts’ for everything?) dua buku yang lain justru kosong. Dan kegalauan saya semakin bertambah parah ketika tahu buku Percy Jackson and Greek Gods yang juga habis. Hiks! :'(

Dengan kegalauan yang masih meraja, saya mulai berjalan dari satu rak ke rak lain. Mencari buku yang menarik minat. Dapat, masuk keranjang, lalu cari yang lain. Entah berapa kali saya bolak-balik dari rak satu ke rak lain, karena takut ada buku bagus yang terlewat.

Sekitar dua jam kemudian, Mbak Eni mengirim pesan kalau dia sudah selesai berbelanja dan menunggu di restoran depan dan disusul Istii tidak lama kemudian. Karena masih penasaran, saya terus mencari HONY yang sangat saya idam-idamkan itu. Sempat coba bertanya ke petugas yang berjaga, namun malah dioper ke sana-kemari dan membuat saya makin stress. Saking gregetannya, saya memutuskan berjalan pelan sambil mantengin setiap rak non-fiksi sampai… mungkin lebih tujuh kali.

Saya pun pasrah dan memutuskan untuk menyudahi perburuan saya hari itu. Dan tahu kejutan yang disiapkan Tuhan  buat saya? Ketika berjalan menuju kasir dengan langkah setengah diseret saking capainya, saya menemukan satu buku idaman saya di rak depan panggung. Bukan, bukan HONY. Melainkan The Nightingale karangan Kristin Hannah. Buku ini ada di nomor-nomor teratas wishlist saya, namun tidak saya harapkan ada di BBW karena masih cenderung baru.

Setelah heboh mengabarkan temuan berharga itu di group chat, saya tidak jadi melangkah menuju kasir. Saya justru kembali lagi ke bagian non-fiksi demi HONY.

‘Tak keliling pisan maneh, yo (Mau keliling sekali lagi, ya). 

Itu yang saya katakan pada dua partner berburu saya hari itu. Tapi ternyata sekali lagi itu tidak cukup. Saya berkeliling hingga 4-5 kali di bagian buku non-fiksi dengan harapan buku yang saya cari terselip di antara buku yang lain. Dan… masih tidak ada juga. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk benar-benar menyerah. :'(

Segera, setelah membayar, saya menyusul yang lain untuk mengisi perut yang mulai kosong. Ketika saling mengintip belanjaan satu sama lain, baru kami bertiga sadar kenapa tidak menggabungkan belanjaan menjadi satu demi buku-buku gratis. Hari itu ada program beli 20 buku gratis 5 buku. Sayang sekali, bukan?

Picbook hasil buruan di BBW. Sungguh saya menyesal hanya beli segini. :')
Picbook hasil buruan di BBW. Sungguh saya menyesal hanya beli segini. :’)

Hari sudah sore ketika kami memutuskan pulang. Mbak Eni dan suami mengantar Istii dan saya ke terminal. Istii dan saudaranya langsung pulang ke Pandaan, sementara saya masih cangkrukan di loket tempat om saya bekerja. Baru selepas isya’ saya meluncur ke Stasiun Gubeng.

Dengan bawaan yang semakin berat, buku-buku yang baru dibeli, sekotak donat untuk adik saya,  dan juga oleh-oleh pemberian Mbak Eni, saya duduk-duduk selonjoran di Gubeng sambil menunggu kereta tujuan Jember. Jangan tanya bagaimana perasaan saya: campur aduk. Senang, sedih, capek, dan galau. Meski lebih banyak galau kenapa tidak memborong lebih banyak picbook mumpung harganya yang benar-benar miring.

Dan ini novel-novel yang membuat saya berbangga hati untuk hal aneh. Karena sukses cuma beli segitu :P
Dan ini novel-novel yang membuat saya berbangga hati untuk hal aneh. Karena sukses cuma beli segitu :P

Konon, BBW akan diadakan setiap enam bulan sekali. Saya mulai berharap, karena sepertinya tidak mungkin tahun depan kembali ke Surabaya, BBW bakal digelar di Yogyakarta. Dan dengan senang hati saya bakalan datang meski, seperti kata teman saya, cuma memborong buku impor. :P

Btw, ketika sampai di rumah, saya jadi terkejut sendiri melihat hasil buruan saya di BBW. Bukan hanya karena total belanja yang di bawah budget. Tapi karena itu pertama kalinya saya bisa keluar dari toko buku impor (online ataupun offline) tanpa membeli satu pun novel Young Adult. Yeay! [L[

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s