Senyum Neve


Dimuat di Majalah Gadis edisi 25 (11-24 Desember 2016)

Girls are Supposed to Smile (Source: click the picture)
Pretty Girls are Supposed to Smile (Source: click the picture)

Ketika Mbak Nurhayati Pujiastuti melempar tema untuk kelas cerpen Majalah Gadis pertengahan Agustus lalu, saya berkata kalau ingin menulis cerpen dengan latar Jember Fashion Carnaval (JFC). Maka, hari Minggu itu saya pergi ke pusat kota. Berniat riset dan berusaha mendapatkan nyawa cerita yang masih melayang.

Hanya saja, saya belum juga mendapatkan feel cerita. (Saat itu, saya hanya terbayang seorang remaja yang tak lepas dari kamera) Satu-satunya hal yang mengusik benak adalah poster-poster para model JFC di sepanjang jalan dari rumah menuju pusat kota. Paras ayu dengan senyum memesona justru menimbulkan sebuah keluh: kapan saya bisa tersenyum semanis itu? 

Konyol, memang. Nyatanya, pikiran itu terus mengusik hingga saya tiba di rumah. Di tengah pikiran yang absurd semacam itu, saya membuka akun media sosial. Dan post pertama yang saya lihat adalah sebuah artikel yang dibagikan akun New York Times dengan judul yang membuat saya tertegun lama: Pretty Girls are Supposed to Smile. Penasaran, saya mengklik halaman tersebut dan semakin tertampar ketika membaca keseluruhan isi artikel.

Ada orang-orang yang tidak bisa tersenyum karena kelainan neurologis yang disebut sindrom moebius. People who want to do it so bad, but sadly they just can’t. See? Sometimes, life is cruel. Dan entah mengapa, saya berniat menuliskannya sebagai tema cerpen di kelas.

Seperti yang saya ceritakan di sini, riset untuk cerita ini memakan waktu lumayan lama. Nyaris dua minggu. Saya berulang kali mencari artikel untuk memperkuat logika cerita  dan menonton beberapa video wawancara dengan penderita sindrom moebius di youtube. And those always got me teary eyed! 

Beberapa elemen cerita (seperti kosakata senyum, juga nama belakang Aidan) saya temukan begitu saja dalam proses menulis super ngebut itu. Dan Neve, nama ini diambil dari nama karakter cerpen berjudul The Girl Who Woke the Dreamer karya Laini Taylor dalam buku My True Love Gave to Me.  

Ada beberapa bagian yang disunting oleh editor Gadis, seperti judul yang diubah menjadi Senyum Neve. Juga beberapa kalimat dan paragraf yang dihapus atau dipersingkat sehingga lebih efektif dan, tentu saja, lebih manis.

Berikut adalah naskah asli yag saya kirim ke Gadis. And somehow, re-reading this short story–especially the ending–makes me wanna back to my teenage life. Though, I always have that thought in my mind. (Almost) all the time.  Hehe :P

Happy reading! :)

Senyum Neve bersanding dengan My True Love Gave to Me :')
Senyum Neve bersanding dengan My True Love Gave to Me :’)

Senyum untuk Neve
Oleh: Leanita Winandari

Mungkin, Neve akan selalu mengingat hari ini sebagai salah satu yang terburuk dalam hidupnya.

“Kami menunggumu masuk, Neve.”

Tiba-tiba saja, Neve merasa mulas mendengar perkataan wali kelasnya itu. Bahkan senyum yang merekah di bibir Bu Nurma membuatnya semakin gugup. Ah andai saja… Gadis itu menggeleng pelan, lalu bergegas mengikuti langkah kaki teman sekelasnya menuju lapangan basket.

“Kupikir sudah selesai,” keluhnya yang dijawab dengan gelengan serta tepukan pelan di bahu oleh Cindy.

Ia sudah berusaha menghindari hari ini—hari ketika seluruh penghuni kelasnya melakukan pemotretan bersama untuk kalender sekolah. Bukan hal mudah merayu Bunda untuk menuliskan surat izin selama dua hari. Dan sekarang, setelah dua hari yang sudah ia anggap cukup itu, Neve justru mendapati bahwa usahanya sia-sia. Entah bagaimana, Bu Nurma berhasil menunda pemotretan untuk kelas mereka.

“Nah begini sudah bagus,” kata Bu Nurma setelah mengatur formasi foto kelas mereka. Dengan anggun, wali kelasnya itu berjalan dan berdiri di tengah barisan mereka.

Diam-diam, Neve mundur setengah langkah dan sedikit bergeser ke belakang Cindy. Berharap, dengan begitu keberadaannya dalam potret kelasnya tidak terlalu terlihat.

“Bisakah kau bergeser sedikit? Kau tidak terlihat.”

Gadis itu mendongak. Pandangannya kita tertuju pada seseorang yang sedari tadi berdiri di depan dengan kamera di tangannya. Ia tak pernah melihat cowok itu sebelumnya. Tapi, dari warna lokasi yang terpasang di lengan kanan seragamnya, Neve tahu mereka berada di tingkatan yang sama.

“Murid baru,” bisik Cindy.

Sebuah ‘oh’ pelan keluar dari bibir Neve. Kakinya bergeser, menuruti permintaan cowok itu. Meski, di posisinya sekarang, gadis itu masih sedikit tersembunyi. Neve melihat cowok itu mengangkat kedua alisnya, lalu mengedikkan bahu. Memangnya apa yang cowok itu harapkan? Bukankah, ia sendiri yang tadi bilang bergeser sedikit?

“Tersenyumlah,” kata cowok itu kemudian.

Neve bisa merasakan lirikan gugup teman-temannya, sementara Cindy meremas tangannya. Gadis itu membeku. Napasnya tertahan. Ia berpura-pura membetulkan letak kacamatanya, sambil berusaha untuk tidak menunjukkan perubahan emosi—sesuatu yang takkan sulit ia lakukan dengan wajah datarnya itu. Namun, ia tidak bisa menampik bahwa dadanya terasa sesak.

“Tidak apa-apa, Aidan. Kami tidak butuh foto yang bagus, yang terpenting anggota kelas kami lengkap,” ujar Bu Nurma.

Dahi cowok itu berkerut. Sejenak, ia terlihat akan memprotes perkataan Bu Nurma barusan. Matanya terarah pada Neve yang masih membeku di tempatnya berdiri. Neve mengira, mungkin itu permintaan terjanggal yang pernah cowok itu dengar. Bukankah hampir semua orang selalu menginginkan hasil foto yang bagus?

Tidak apa-apa, ulang Neve dalam hati. Lagi pula, ia sudah terbiasa dengan semua ini. Seharusnya. Namun, kata itu masih saja terasa menyakitkan baginya.

Tersenyumlah.

“Baiklah,” putus Aidan.

Ujung bibirnya tertarik membentuk sebuah senyum tipis. Entah apa artinya, Neve tak ingin tahu. Tapi, andai saja bisa, Neve ingin meminjam senyum itu lalu menyematkannya di wajah. Sebentar saja. Gadis itu mengalihkan pandangannya sejenak, merasa konyol dengan pikirannya sendiri.

Selepas kilatan cahaya dari kamera cowok itu mati, Neve segera berlari menuju kelas.

*

Itu hanya foto, ukurannya di kalender sekolah akan sangat kecil. Dan seharusnya, itu takkan menjadi masalah besar.

Benaknya terus mengulang kalimat itu, sementara pensil yang d tangannya terus menggores buku sketsa hingga membentuk wajah Bu Nurma yang tengah tersenyum. Setelahnya, ia membuka buku catatan kecil, dan mengambil satu kata untuk disematkan di ujung bawah sketsa.

Gaire?”

Gadis itu mengangkat kepala, menemukan wajah yang membuatnya jengkel tadi siang. Masih dengan kamera di tangan dan guratan senyum yang sama.

“Senyum. Irlandia,” jawab Neve setengah hati.

“Nama bagus,” kata Aidan sambil bersiul pelan.

Neve mengangguk. Apa yang dilakukan cowok itu di taman sore-sore begini? Aidan tidak akan menemukan objek foto bagus di sini. Taman ini lebih pantas disebut taman bermain untuk anak kecil.

Tanpa meminta persetujuannya lebih dulu, cowok itu duduk di sampingnya. “Namamu juga. Neve. Bagus, meski terdengar sedikit… aneh?”

Entah apa yang ada di pikiran cowok itu. Dari cara Aidan memandangnya, seolah Neve adalah makhluk paling aneh yang pernah ia temui. Meski sesungguhnya, gadis itu juga merasa bahwa dirinya terlampau aneh untuk ada di dunia ini.

“Kau terlihat kesal dengan kejadian tadi.”

Neve mendesah. Bagaimana caranya menjelaskan bahwa ia tidak kesal? Baiklah, mungkin sedikit kesal. Tapi, gadis itu tahu, ia tak bisa menyalahkan Aidan atas kejadian tadi. Toh, cowok itu memang tidak tahu. Dan Neve merasa, ia tidak punya kewajiban untuk menjelaskan pada setiap orang asing yang baru ia temui tentang bagaimana ia terlihat.

“Kau masih lama, ‘kan? Aku titip ranselku sebentar,” ucap Aidan sembari memamerkan senyum, yang menurut Neve semakin terlihat menyebalkan.

Belum sempat Neve mengutarakan penolakan, cowok itu sudah melesat pergi. Meninggalkan Neve yang mulai menggerutu saking kesalnya.

*

Ipovlopsychophobia?” tanya ibunya.

Bukan itu. Ada yang aneh dengan gadis itu. Awalnya, Aidan juga mengira, Neve memiliki ketakutan ketika fotonya diambil. Gadis itu terpaku sesaat setelah Aidan menyuruhnya tersenyum pada pemotretan kelasnya tadi pagi. Kedua matanya yang agak sipit itu berair, membuatnya terlihat seperti akan menangis.

Namun, pertemuan di taman dekat rumah sore tadi, membuat gagasan tentang fobia menguap. Ketika ia melihat Neve, ekspresi gadis itu sama sekali tidak berubah. Bahkan ketika Aidan melempar senyum, dan ia yakin Neve akan balik tersenyum, ekspresi gadis itu tetap sama. Muram dan cenderung marah. Seolah, hanya ekspresi itu yang Neve miliki.

“Mungkin suasana hatinya sedang buruk.”

Bahu Aidan terangkat. Ketika Bu Nurma meminta bantuannya untuk mengambil foto kelasnya kemarin, ia menolak. Namun guru di sekolah barunya itu memaksa. Membuat Aidan tak memiliki pilhan lagi selain mengiyakan.

Aidan menatap foto yang diambilnya tadi siang. Entah mengapa, gadis itu mulai mengusik pikirannya. Di foto itu, Neve sedikit tertutup tubuh temannya. Gadis itu tidak tersenyum. Bahkan, ia seperti tidak berusaha untuk tersenyum.

Kenapa? Kening Aidan berkerut. Jujur saja, ia tergoda untuk menanyakan tentang gadis itu pada teman-temannya. Namun, gagasan itu terdengar buruk baginya.

Aidan mengembuskan napas. Pikirannya tertuju pada buku sketsa yang Neve bawa ke mana-mana. Tadi, ia hanya melihatnya sekilas. Namun Aidan yakin, buku tersebut berisi sketsa wajah-wajah yang tengah tersenyum.

Gaire. Senyum, Irlandia.

Gadis aneh, pikirnya sambil tersenyum. Tapi, ia tahu, itu tak menyurutkan niatnya untuk menemui gadis itu lagi di taman esok hari.

*

Seperti sore-sore sebelumnya, Neve melihat Aidan menunggunya di sana.

Sejak hari pertama itu, seolah ada perjanjian tak terucap di antara mereka untuk bertemu di bangku taman setiap pukul tiga sore. Bukan hanya sekali, gadis itu ingin membalikkan badan. Pulang atau mencari tempat lain. Namun, langkah kakinya selalu mengkhianati dengan menuju ke bangku taman tempat Aidan tengah menimang kamera.

“Kau lama sekali,” kata cowok itu sambil tersenyum.

Baiklah. Neve mengakui, sekarang senyum itu tidak lagi terlihat menyebalkan. Dan ia ingin sekali melakukan hal yang sama. Tersenyum, menarik kedua ujung bibirnya ke atas hingga membentuk lengkungan cantik. Tapi, ia tidak bisa.

Gadis itu mengempaskan dirinya ke bangku, lalu mengeluarkan buku sketsa dan pensil. Bukannya Neve tidak merasa keberatan dengann kehadiran cowok itu. Setidaknya, cowok itu selalu meninggalkan ranselnya dan Neve yang menggurat buku sketsa sendirian.

“Mau lihat?”

“Boleh?” tanya Neve ragu.

Aidan menyeringai lebar, menyerahkan kamera pada Neve.

Gadis itu menggeser gambar dan merasakan hangat merayap di hatinya. Foto-foto pengunjung taman dengan berbagai ekspresi. Senyum, tawa, muram, kesal, dan… Tawa Neve pecah ketika melihat gambar seorang anak kecil yang menangis ketika berebut sebuah balon dengan yang lain. Gadis itu tak memilih tak peduli meski ia tahu dirinya pasti terlihat aneh karena raut wajahnya tak berubah. Kecuali, bibirnya yang sedikit tertarik.

“Kau suka?”

Neve mengangguk.

“Salah satu teman Ayah menawariku untuk ikut pameran foto. Tapi, aku tidak yakin, lagi pula…

“Yang benar saja! Ini benar-benar bagus. Foto-fotomu itu, seolah bercerita,” putus Neve.

Ia tidak berbohong. Neve menyukai cara Aidan menangkap momen dan ekspresi itu. Ketika melihatnya, benak Neve langsung membayangkan apa yang telah terjadi.

“Nah sekarang giliranmu.” Aidan mengambil kembali kamera dari tangan Neve, meski gadis itu yakin masih ada yang belum ia lihat. “Buku sketsamu?” pintanya.

“Ta—”

Tapi Aidan sudah mengambil buku sketsa dari pangkuannya. Neve hanya bisa mendesah pelan ketika cowok itu mulai membalik lembar-lembar buku sketsanya.

Hasi. Hymy.” Kening Aidan berkerut ketika membaca tulisan kecil di bawah setiap sketsa. “Kupikir, kau menggunakan nama Gaire untuk setiap sketsamu.”

Neve menggeleng pelan.

“Apa artinya?” tanya Aidan lagi.

Neve diam sejenak, berusaha memutuskan apa yang akan ia katakana.. “Senyum,” katanya nyaris berbisik.

“Sepertinya kau tergila-gila pada senyum,” ucapnya sambil tertawa kecil.

Kali ini Neve tidak menyahut. Kemudian, setelah ia sadar ia menahan napas cukup lama, gadis itu mengembuskannya perlahan. “Karena itu hal yang paling kuinginkan.”

Aidan menoleh. Menatap mata Neve yang berair itu.

*

Ketika ia masih kecil, Neve percaya, bahwa Soubagamousso-lah yang mencuri senyum dari wajahnya. Penyihir itu, menurut buku yang dibacanya sebelum tidur, menyamar menjadi seekor nyamuk pada malam hari untuk mencuri senyum penghuni Desa Yeleko yang terlelap.

Karenanya, sebelum tertidur, Neve akan menepuk nyamuk yang terbang di dekatnya. Berharap, ketika ia bangun keesokan harinya, senyum itu, juga ekspresi lain yang telah hilang dari wajahnya, akan kembali.

Tapi, tidak ada kembali. Ia masih terbangun dengan wajah yang sama seperti kemarin malam. Otot-otot wajahnya tetap kaku, matanya tidak bisa berkedip atau melirik, dan bibir yang tak pernah mengatup sempurna.

Baru ketika ia berusia sebelas, Neve mengetahui bahwa pencuri senyumnya bukanlah Soubagamousso. Pencuri itu memiliki nama yang berbeda.

Sindrom moebius. Kelainan neurologis yang menyebabkan kelumpuhan pada otot wajahnya. Kelainan itu juga yang membuat ia telat berbicara hingga harus mengikuti terapi bicara ketika ia lima tahun. Juga yang membuat matanya tidak bisa memproduksi air mata, dan harus menjalani operasi agar matanya tidak kering.

“Tapi Bunda dan Ayah tahu, kau selalu tersenyum dari hati.”

Neve mengiyakan perkataan Bunda itu. Namun, seiring usianya yang bertambah, Neve tahu ini takkan semudah meyakini bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tidak semua orang yang bisa mengerti dan ia tidak bisa memaksa mereka mengerti. Kerap kali, ia menyimpan sakit yang tidak bisa dijelaskan ketika seseorang menyuruhnya tersenyum.

Tersenyumlah. Kau terlihat seperti ingin membunuh seseorang.

Gadis cantik itu harus tersenyum.

Senyum akan membuat seseorang terlihat lebih cantik dan menyenangkan. Neve paham betul akan hal itu. Hanya saja, ia tidak bisa. Ia bahkan tidak pernah tersenyum. Kecuali, jika kegiatan rutin yang ia lakukan setiap bercermin—menaruh dua jari telunjuk di ujung bibir lalu menariknya hingga membentuk segaris senyum—itu bisa dianggap tersenyum.

Satu-satunya hal yang membuatnya bisa melupakan rasa sesak di hatinya adalah menggambar. Guratan pensil dari wajah orang-orang terdekatnya yang tengah tersenyum.

*

“Menyebalkan, bukan?”

Untuk pertama kalinya, Aidan tidak tahu bagaimana harus menanggapi perkataan gadis itu. Cowok itu hanya memandangi Neve dengan berjuta pertanyaan yang berkelebat di benaknya.

Ia mulai bertanya-tanya seperti apa rasanya tidak bisa tersenyum. Atau, bagaimana rasanya tidak bisa menunjukkan apa yang kaurasakan pada dunia. Neve benar, itu menyebalkan.

“Kau sengaja menghindari pemotretan itu, kan? Itu kenapa kelasmu terlambat melakukan pemotretan,” selidik Aidan.

Pipi Neve memerah. Aidan tidak bisa menahan diri untuk senyum. Tidak benar kalau gadis itu tidak bisa menunjukkan perasaannya. Entah disadarinya atau tidak, pipi Neve kerap memerah ketika ia malu.

“Aku hanya tidak mau merusak foto kelas kami.”

Satu alis Aidan terangkat. “Memangnya kenapa?”

“Mereka semua tersenyum manis, sementara aku…” suara Neve tercekat, nyaris terisak.

Aidan menunduk, tangannya terkepal. Memikirkan saat ia menyuruh Neve tersenyum waktu itu, membuatnya mulai membenci dirinya sendiri. Cowok itu menghela napad dalam.

“Mau kutunjukkan sesuatu?”

Sebelum Neve mengiyakan, ia menarik lengan gadis itu.

*

Ketika Neve tiba di tempat pameran, Aidan sudah menunggunya di luar. Bibir cowok itu menyunggingkan senyum semringah.

“Itu untukku, bukan?” goda Aidan menunjuk bingkisan di tangan Neve.

Kalau saja bisa, Neve akan memutar bola matanya. Alih-alih, gadis itu menggeleng, lalu berjalan cepat menuju tempat foto-foto milik Aidan dipajang. Di belakangnya, cowok itu mengikuti sembari tertawa kecil.

“Siapa bilang kau tidak bisa tersenyum?” Neve masih ingat perkataan cowok itu seminggu lalu. Di hadapannya, selembar foto dirinya tengah tertawa ketika berbincang bersama Cindy. Entah kapan Aidan mengambil foto itu, cowok itu tak mau memberitahunya.

“Di sana,” kata Aidan. “ketika kau tertawa, ujung bibirmu membentuk senyuman samar.”

Sekarang, gadis itu berdiri di depan potret yang sama. Senyum samar, nyaris tak terlihat. Ada letupan-letupan hangat yang menyenangkan di hatinya. Pipinya memanas karena haru dan bahagia.

“Kau sedang tersenyum, kan?” tebak Aidan.

“Sok tahu!” Neve memalingkan wajah, tidak ingin cowok itu tahu bahwa tebakannya benar.

“Mungkin, orang-orang memang tidak bisa melihatnya, ketika kau tersenyum. Tapi, akan selalu ada orang yang bisa merasakannya.”

Setengah tak percaya dengan apa yang ia dengar, Neve berbalik menatap cowok itu. Tersenyum dari hati, kata Bunda, orang lain akan bisa merasakan.

“Sekarang, mana kado untukku,” pinta Aidan.

Neve menjulurkan bingkisan kecil di tangannya. “Hanya itu yang kupunya.”

Dengan tak sabar, Aidan membuka kertas pembungkus kado. Sketsa wajah Aidan dengan senyum yang tergurat manis. “Ternyata, diam-diam kau menggambarku.”

“Kita impas,” dengus Neve, berpura-pura marah. Ia menunjuk bagian kosong di mana ia biasa menuliskan satu kata senyum itu. “Menurutmu, kata apa yang harus kutulis di sana?”

Aidan tersenyum. Senyum yang membuat Neve begitu ingin mengabadikannya. Tidak hanya dalam buku sketsa milknya, namun juga dalam ingatan.

Naeratama,” jawab Aidan. Seringai jahil menghias wajahnya.

“Huh?”

“Senyum. Estonia.”

Jemari Aidan menunjuk sebuah nama yang tertulis kecil di ujung bawah foto miliknya.

Aidan Naeratama.

Seketika, Neve merasa pipinya mulai memerah. [L]

Advertisements

5 thoughts on “Senyum Neve

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s