Patung Kayu Berhantu


Patung Kayu Berhantu (Photo credit: Mbak Yayan Rika)
Patung Kayu Berhantu (Photo credit: Mbak Yayan Rika)

Dimuat di Majalah Bobo edisi 45, 16 Februari 2017

Patung Kayu Berhantu

Oleh: Leanita W.

Tubuh Lila sedikit bergetar setelah mendengar apa yang dikatakan Lula barusan.

“Masa, sih?” tanyanya sambil menyembunyikan rasa takut. Sebenarnya Lila tak mau mempertanyakan itu pada saudara kembarnya. Namun, rasa penasaran yang dia miliki ternyata jauh lebih besar.

“Iya, sungguh. Kamu, kok, enggak percaya sama aku, sih,” sahut Lula sambil memonyongkan bibir.

Semua berawal dari jeritan Lula saat hari mulai gelap. Kebetulan, hanya mereka berdua di rumah. Sejak sore tadi, Ayah dan Bunda pergi ke rumah sakit menengok Tante Inge yang baru saja melahirkan. Sedangkan Kak Reyna membeli nasi goreng di ujung kompleks untuk makan malam mereka.

“Patungnya… patungnya bergerak-gerak,” kata Lila sambil memasuki kamar mereka.

Lila yang tengah asyik membaca buku dongeng barunya, langsung kaget mendengarnya.

“Patung apa, Lul?”

“Patung yang itu…” bola mata Lula membelalak lebar. Tangan kanannya yang gemetar menunjuk arah ruang tamu.

Patung yang dimaksud adalah patung peninggalan almarhum Kakek. Ayah membawanya dari rumah peninggalan Kakek-Nenek di desa beberapa hari lalu. Bentuk patung itu menyerupai seorang perempuan berambut panjang yang tengah bercermin.

Lila merinding. Tiba-tiba saja dia teringat omongan dengan Cak Mat beberapa minggu lalu. “Rumah ini ada penunggunya, Lila.”

“Hantu maksudnya, Cak?”

Waktu itu, Cak Mat cuma tersenyum dan tidak menjawab apa-apa lagi. Lila hanya mengerjapkan mata tidak percaya. Kata Bunda, hantu cuma rekaan dan karangan para orangtua jaman dahulu untuk menakuti anak-anak agar tidak nakal.

Sekarang, dengan penuh rasa penasaran dan juga sedikit rasa takut, Lila memutuskan untuk membuktikan ucapan Lula. Memang sih, Lila yakin Lula tidak berbohong. Tapi tetap saja… Lila ingin melihatnya sendiri.

Dengan ditemani Lula yang membuntuti tepat di belakangnya, Lila berjalan menuju ruang tamu. Awalnya, tidak ada yang aneh. Tapi tiba-tiba patung kayu itu bergerak perlahan. Lila berdiri terpaku, mulutnya seperti terkunci. Sementara Lula memegang lengan Lila erat-erat. Namun tiba-tiba patung itu kembali bergerak ke kanan dan ke kiri.

“Aaaaaa….!!!” mereka berteriak bersamaan. Dan tanpa menunggu aba-aba lalu segera lari ke kamar dan mengunci pintu.

“Kamu udah percaya, kan, Lil?” tanya Lula.

Lila mengangguk lemah. Napas mereka tersenggal-senggal.

“Kak Reyna lama banget, sih,” rengek Lula.

Mereka ketakutan. Bagaimana kalau hantu itu benar-benar ada? Hiiiiiyyy… mereka tidak berani keluar kamar.

Tak lama kemudian terdengar suara ketukan. Lula memandang Lila, meminta agar membukakan pintu. Biasanya Lila lebih pemberani. Namun kali Lila tak beranjak. Baru ketika suara Kak Reyna terdengar dari balik pintu, mereka berdiri bersamaan.

“Ada apa sih kok lama buka pintunya?” tanya Kak Reyna.

“Anu, Kak Reyna, tadi… Aduh!” Lila berteriak kesakitan ketika Lula menginjak kakinya. Lula tak mau menceritakan kejadian itu kepada Kak Reyna, Ayah, dan Bunda.

Mereka pasti tidak akan percaya. Lagi pula, Lila dan Lula kan sudah kelas lima SD, masa mereka masih penakut begini?

Kak Reyna menatap si kembar bergantian. “Ada apa?”

Akhirnya Lila mulai berbicara. Diceritakannya tentang patung kayu itu. Juga cerita yang dikatakan Cak Mat waktu itu. Kak Reyna terkikik geli.

“Tuh kan!” gerutu Lula pada Lila. “Enggak aka nada yang percaya.”

Setelah menyadari bahwa adik kembarnya benar-benar ketakutan, Kak Reyna berkata, “Duh… Maaf Kak Reyna ketawa. Habisnya kalian lucu, percaya hantu. Cak Mat memang benar, rumah ini ada penunggunya…”

Lila dan Lula semakin tegang mendengarnya. Berarti rumah ini benar anngker.

“Mau tahu penunggunya?” tanya Kak Reyna, yang tidak dijawab kedua adiknya. “Ya Lila, Lula, Ayah, Bunda, dan aku.”

“Terus patung kayu itu bagaimana?” tanya Lila dan Lula hampir bersamaan. “Tidak mungkin, kan, patung itu bergerak sendiri. Meski Lila atau Lula kuat mengangkatnya, tapi bukan berarti benda itu bisa bergerak saat ditiup angin.”

“Oh, itu. Ayo kita lihat bersama-sama,” ajak kak Reyna.

Kak Reyna melangkah menuju ruang tamu. Tangan Lila mengenggam tangan Lula. Mereka bergandengan seperti biasanya ketika menghadapi sesuatu.

Patung kayu itu bergerak lagi ketika mereka sampai di dekatnya. Kali ini lebih cepat dan gerakannya tidak beraturan. Genggaman tangan si kembar semakin erat. Kalau bukan karena sikap Kak Reyna yang tenang, mereka pasti sudah ngacir.

“Sssttt…” kata Kak Reyna sambil menempelkan jari telunjuk di bibir. Dengan perlahan, Kak Reyna meraih patung itu dan mengangkatnya dengan lembut.

“Waaaa…!” jerit si kembar.

Seekor makhluk kecil berwarna hitam lari dengan cepat menuju halaman. Lila dan Lula masih kaget dan deg-degan, namun mereka merasa lega. Mereka saling berpandangan, lalu tertawa keras. Menertawakan ketakutan mereka yang lucu. Kak Reyna hanya geleng-geleng melihatnya.

Ternyata bagian bawah patung itu memiliki rongga. Nah, rongga itu dimasuki oleh seekor tikus kecil. Saat ada langkah orang di dekatnya, tikus itu ketakutan dan berusaha lari, sehingga membuat patung kayu itu bergerak. [L]

=======================================================================================

Sepanjang tahun 2016 saya luar biasa galau. Pasalnya, tidak ada satu pun karya saya yang berhasil dimuat si kelici biru a.k.a Majalah Bobo. Padahal, sejak akhir 2014 sampai pertengahan 2016, saya lumayan rajin mengirim naskah ke sana. Tapi… ah, sudahlah. Yang pasti, saking galaunya, saya sampai ngambek dan berhenti kirim. (Setelah iseng mengintip surel, saya terakhir kirim naskah ke Bobo sekitar Oktober 2016 lalu.) Haha… :P

Kever Bobo edisi 45, 16 Februari 2017
Kever Bobo edisi 45, 16 Februari 2017

Ketika Mbak Yayan mengirimkan pesan fb pada hari Minggu yang sendu, saya sebenarnya berharap kalau dia mengabarkan ada karya saya di GoGirl *ngarep :P* Dan sejujurnya, ketika akhirnya pesan Mbak Yayan saya baca, saya sendiri kaget melihat penampakan cerita ini di Bobo. BOBO, yeay, finally! <3

Cerpen ini saya tulis awal tahun 2015, dan dikirim di hari yang sama. Tepatnya kapan, saya sudah lupa. Awal tahun lalu, ketika di kelas Penulis Tangguh, Mas Bambang Irwanto mengingatkan soal alamat surel Bobo yang sudah lama ganti. Saya jadi penasaran kalau-kalau saya salah kirim dan mulai mengecek surel. Dan memang, saya keliru mengirimkan naskah ini dan dua naskah lainnya ke alamat surel lama. Pantas saja tak kunjung dimuat, eh? Hari itu juga, cerita ini saya kirim ulang, tanpa diedit lagi dan baru saya sadar minggu lalu ketika membaca soft copy naskah ini dan menemukan beberapa typo di dalamnya. Hihi :D

Ide cerita ini didapat dari patung kayu di meja kantor. Patung wanita yang tengah bercermin, persis seperti di dalam cerita. Awalnya, saya sendiri tidak terlalu yakin cerita ini bakalan dimuat. Karena, menurut saya, ada banyak naskah cerita anak yang lebih bagus dari yang satu ini–eh, ini sebenarnya relatif, karena selera saya belum tentu sesuai dengan selera editor Bobo.

Cerita anak ini adalah karya kedua saya di Bobo setelah Delphin, si Lumba-Lumba dimuat Desember 2014. Lama amat, Mbak? Hiks. :(

Bahagia rasanya ketika mendengar kabar bahagia ini–sampai sekarang pun saya masih girang. Meski bukan yang pertama, tapi ini menumbuhkan harapan saya untuk naskah-naskah yang lain. Tidak hanya di Bobo, tapi juga di majalah wanita, dan majalah remaja yang itu.

Dan pastinya, saya jadi lebih bersemangat menulis cerita anak lagi, terlebih dongeng anak. Yes, this genre is always be my favourite! [L]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s