Pancarona


Dimuat di GoGirl! Weekend Web Story, 5 Maret 2017

Pancarona

Oleh: Leanita Winandari

 

Terkadang, Cle berharap ia bisa menulikan telinganya. Mungkin, dengan begitu warna-warna yang seakan melayang dan memenuhi benaknya seperti saat ini akan menghilang dari kehidupannya.

“Serenade, Schubert,” gumam Miya pelan.

Cle menarik napas. Ia begitu akrab dengan melodi tersebut, juga dengan warna-warna yang mengikuti setelahnya. Kuning pucat yang berbaur dengan biru dan warna pucat lainnya. Warna-warna itu berbentuk sulur-sulur yang lantas bergerak seiring melodi dimainkan.

Gadis itu memejamkan mata. Satu tangannya mengoyangkan kepala. Kegiatan yang ia harap akan membuat beragam warna itu buyar. Namun, Cle tahu, ini akan sia-sia. Semuanya tidak akan berakhir hingga melodi tersebut selesai dimainkan.

Perlahan, Cle beranjak dari duduknya. Akhir-akhir ini, sejak kedatangan tetangga barunya itu, kepalanya seakan nyaris meledak. Biarkan saja. Ingin sekali ia mengatakan itu pada dirinya sendiri. Tapi, sungguh, Cle tidak tahan lagi.

Dari tempatnya berdiri sekarang, pandangan Cle lekat pada rumah itu. Sejenak, ia merasa, keputusan impulsif yang terlintas di pikirannya baru saja benar-benar keliru. Namun, ketika melodi lain dimainkan dan warna-warna itu mulai berubah, langkahnya semakin gegas.

Maka, sesampainya di depan pintu bercat cokelat tua itu, Cle memencet bel berulang kali. Permainan biola tadi terhenti, berganti dengan derap langkah yang disertai gerutuan panjang.

“Hai,” ujar seseorang ketika pintu akhirnya terbuka.

Seketika, kata-kata yang telah Cle siapkan seolah menguap. Ia pernah melihat cowok itu sekali. Sulit rasanya mengabaikan kehadiran cowok dengan rambut cokelat muda serupa itu madu. Yang Cle tidak tahu, adalah kenyataan bahwa ia merasakan warna-warna pastel hangat seolah terburai ketika mendengar satu kata itu.

“Maaf, ada yang bisa kubantu?” tanyanya sambil berdeham.

“Bisakah—“ Cle menggigit bagian dalam bibirnya. Entah mengapa semuanya menjadi semakin kacau. Gadis itu mengambil napas dalam, lalu berkata secepat yang ia bisa, “Bisakah kamu berhenti memainkannya? Permainan-permainan biola itu, atau apapun yang berhubungan dengan musik.”

Dahi cowok itu berkerut. Cle menerka, mungkin di dalam hatinya, makhluk di depannya itu tengah menertawakan permintaan konyolnya ini. Tapi, Cle tidak peduli. Lagi pula, meski terdengar lirih, bukankah permainan biola cowok itu sudah menganggunya? Dan ia merasa berhak melontarkan teguran.

“Kamu serius?” Finn—nama cowok itu, sekarang Cle bisa mengingatnya.

Cle mengangguk samar. “Setidaknya, ketika aku berada di rumah.”

Mata Finn lekat padanya, seolah mencari di mana letak keseriusannya. Dan meski kebingungan masih jelas tergurat di wajahnya, Finn akhirnya mengangguk dan berkata pelan. “Oke.”

“Terima kasih,” ucap Cle sebelum ia memelesat menuju rumah dan mendapati Miya memandanginya dengan tatapan penuh simpati.

*

“Cle!”

Cle terperanjat. Di hadapannya, Miya memberinya tatapan penuh tanda tanya.

“Kaget?” tanya Miya sambil tertawa kecil.

Baiklah. Mungkin bukan hanya setengah teriakan Miya yang membawa kesadaran Cle kembali—juga membuat mereka berdua memperoleh lirikan sinis dari pengunjung perpus yang lain. Sahabatnya itu menggoyangkan bahunya keras, beserta sebuah cubitan di salah satu lengan. Memang siapa yang kaget?

“Ada apa, sih?”

Miya memutar bola matanya. “Ini sudah ketiga kalinya aku bertanya hal yang sama: sudah dapat ide buat pameran seni sekolah?”

Sorry, tidak dengar,” jawab Cle.

Lagi-lagi, Miya memutar bola mata. Dan kali ini disertai gerakan bibir mengerucut dan wajah penuh selidik yang menyebalkan. “Kamu sedang memikirkan cowok itu, ‘kan?”

Cle mendengus sebal. Ingin rasanya ia menyangkal, tapi Cle tahu perkataan Miya benar. Sejak seminggu lalu, tepatnya setelah Cle meminta Finn berhenti memainkan biolanya, benak gadis itu justru terasa kian penuh.

Seharusnya Cle senang. Dunianya kembali seperti sedia kala. Dunia tanpa alunan musik yang bisa membuat dadanya terasa sesak karena warna-warna itu. Hanya saja, kejadian tadi pagi justru mengusiknya. Finn tersenyum dan melambaikan tangan ketika melihatnya mengeluarkan sepeda dari garasi. Begitu saja, seolah tidak apa-apa yang terjadi.

“Kenapa kamu tidak bilang yang sebenarnya saja, sih, Cle. Siapa tahu cowok itu bisa mengerti,” kata Miya.

Cle menggeleng. Itu adalah hal terakhir yang ia ingin lakukan. “Eh, soal pameran seni…” katanya, berharap bisa mengalihkan topik pembicaraan.

“Huh.” Bibir Miya mencebik. “Lima minggu lagi dan aku belum dapat ide. Kamu… mau melukis?” tanya Miya hati-hati.

Cle  pernah memikirkannya, melukis. Namun, gagasan itu selalu ditepisnya dengan cepat. Ia yakin akan menemukan sesuatu yang berbeda tanpa bersentuhan dengan dunia yang sudah ditinggalkannya dua tahun lalu itu.

“Masih belum mengerti kenapa semua murid diharuskan ikut,” katanya berusaha acuh tak acuh.

*

Entah apa yang membawa Cle kembali ke tempat ini. Miya bilang, meminta maaf mungkin akan membuat hati Cle sedikit lebih baik. Dan meski sebenarnya merasa tak punya cukup nyali untuk berdiri di depan pintu itu, gadis itu tetap melakukannya.

“Hai.”

Ah, warna-warna pastel itu lagi. Cle tidak mengerti bagaimana bisa suara Finn bisa memburaikan warna-warna seperti itu. Dalam suatu cara yang aneh, suara cowok itu tak ubahnya seperti alunan musik dan Cle menyukainya.

Ia melirik cowok di hadapannya. Senyum masih terkembang di wajah Finn. Sesuatu yang tidak pernah Cle harapkan.

“Maaf,” ucap Cle pendek.

“Untuk?”

Tatapan Cle menghujam wajah Finn tajam. Huh? Sepertinya, selain cowok ini tidak punya rasa peduli, ia juga sedikit bebal. “Memangnya apa lagi?” tanya Cle, sedikit ketus.

Tanpa Cle duga, cowok itu justru tertawa. “Mau masuk?” tawar Finn.

Cle memberikan tatapan aneh pada cowok itu. Bagaimana mungkin Finn begitu santai menanggapi semua? Ia ingin menolak, lagi pula alasannya datang kemari hanyalah untuk meminta maaf. Hanya itu.

Namun, ini adalah salah satu saat ketika anggota tubuh dan otaknya saling mengkhianati. Kepala Cle terangguk. Samar, tapi itu sudah cukup membuat senyum di wajah Finn kian lebar.

“Mama ada di kebun belakang,” jelas Finn tanpa diminta.

Bibir Cle membentuk kata ‘oh’. Sementara pandangannya memindai deretan foto di di salah satu dinding. Foto keluarga Finn, hingga foto-foto Finn yang seakan tak pernah lepas dari biolannya. Pandangan gadis itu tiba-tiba meredup, dadanya kian diliputi rasa bersalah.

“Masih ada banyak foto-foto di ruang tengah,” ujar Finn.

Cle bisa merasakan panas menjalari pipinya. Entah sejak kapan Finn mendapatinya memandangi foto-foto itu. Ia lantas mengalihkan pandangan, sembari berharap wajahnya tidak memerah karena malu.

“Kamu bermain biola sejak kecil?” tanya Cle. Itu hanya sekadar pertanyaan basa-basi. Sebab, meski ia sudah tahu jawabannya, Cle benar-benar tidak tahu apa yang harus ia katakan.

“Satu pertanyaan untuk satu pertanyaan,” kata Finn sembari tersenyum jahil.

“Eh?” Dahi Cle mengernyit. Cowok aneh, gerutunya dalam hati. Dan meski ia tak sepenuhnya menganggap itu adalah pilihan bagus, gadis itu tetap berkata, “Baiklah.”

“Sejak usiaku empat atau lima tahun, aku tidak bisa mengingatnya. Papa yang mengajariku bermain biola,.”

Cle mengangguk. Ia harus mengakui satu hal lagi, ia menyukai binar di mata Finn ketika cowok itu menceritakan tentang niatnya melanjutkan studi di New York.

“Aku yakin kamu bisa,” ucap Cle tulus.

Finn tersenyum tipis, membuat Cle bertanya-tanya apa yang berada di pikiran cowok itu sekarang. Cle tidak berbohong. Meski hanya mendengar dua lagu dan rasanya sudah lama sekali, ia tahu seberapa bagus permainan biola Finn.

“Dan, kamu. Kenapa kamu menyuruhku berhenti bermain musik?”

“Hanya ketika aku berada di rumah,” ralat Cle. Perlahan gadis itu menarik napas dalam. Ia tahu, pertanyaan seperti itulah yang akan keluar dari bibir Finn. Cle menggigit bagian dalam bibirnya, berharap Finn akan mengubah pertanyaannya.

“Jadi, kenapa?” tanya Finn lagi.

Cle tidak menyukai pandangan mata Finn yang sedikit menuntut itu. Bukankah maksud kedatangannya kemari hanya untuk meminta maaf? Sekarang, ia justru terjebak dalam permainan konyol yang Finn lontarkan tadi.

Chromesthesia,” jawabnya, nyaris seperti bisikan. Sesaat ketika kata itu meluncur dari bibirnya, Cle justru merasa menyesal. Nantinya, Cle yakin, akan ada pertanyaan-pertanyaan lain yang menyusul.

Alis Finn terangkat, dan itu sudah cukup membuat hati Cle kalang-kabut. “Sinestesia?”

Cle menelengkan kepala. Sedikit takjub sekaligus takut dalam waktu bersamaan. Gadis itu berusaha tertawa, meski di telinganya tawa itu terdengar begitu kering. “Aneh, ya?”

“Aneh,” ulang Finn pelan.

Napas Cle tertahan. Kata-kata itu merupakan tanggapan yang selalu ia dengar ketika ia mengatakan tentang warna-warna yang tiba-tiba saja muncul setiap kali ia mendengarkan suara.

“Tapi, itu semakin membuatmu… menarik.”

Menarik. Mendengar itu, ingin rasanya Cle tertawa.

*

Cle tidak pernah menganggap kelainannya itu menarik. Mungkin, dulu pernah. Ketika ia masih kecil dan pertama menyadari kehadiran warna-warna itu.

Dalam ingatan Cle, Mama juga bisa melihat warna-warna itu. Meski warna-warna yang Mama lihat berbeda dengan dirinya, mereka kerap berlomba mengucapkan nama warna yang muncul ketika mendengarkan nada tertentu.

Hingga ketika Cle berusia sebelas tahun dan keluarga mereka menghadiri pertemuan keluarga tahunan di mana gadis itu tengah bermain dengan para sepupunya. Ketika sebuah lagu dimainkan, dengan gerak tangan menunjuk, ia berkata pada para sepupunya, “Kamu lihat warna itu. Oranye, lalu kuning terang.’

Dasar pengkhayal.

Kasihan Cle. Kegilaan ibunya turun ke anak itu.

Setelahnya, Cle merasakan gerak tangan Mama merengkuhnya cepat lalu segera membawanya pergi dari sana. Namun, suara tawa dari para sepupunya, juga gumaman yang disertai ejekan dari adik-adik Papa terus terngiang, bahkan hingga sekarang. Semuanya membentuk warna-warna suram yang membuat dadanya terasa sesak.

“Kamu tidak usah hiraukan omongan orang lain. Kamu itu spesial, Cle,” kata Papa dalam perjalanan pulang.

Sungguh, Cle ingin meyakininya. Namun, kejadian itu benar-benar mengubah segalanya. Mama tidak pernah lagi menemaninya menangkap warna. Mama melarangnya dan Papa mendengar musik, dan bahkan wanita itu menjual piano kesayangannya. Yang lebih menyakitkan, Mama percaya bahwa ia telah menurunkan sebuah kutukan pada Cle hingga tenggelam dalam perasaan bersalah yang dalam.

Sampai sekarang, Cle merasa takut dan lelah untuk menjelaskan. Bahwa hanya karena kedua inderanya saling terhubung dengan cara yang kurang wajar bukan berarti ia gila. Itu sudah cukup menjadi alasan mengapa ia lebih memilih merahasiakan kelainannya itu. Sebab, sekalipun ia tahu itu tidak benar, Cle terlalu takut mengetahui anggapan orang tentang dirinya.

Hanya pada Miya ia menceritakan semua—sesuatu yang sahabatnya itu lebih suka menyebutnya anugerah, alih-alih kelainan atau ‘kutukan’. Dan, sekarang, Finn.

“Aku serius soal ucapanku, Cle,” ucap Finn lagi.

Cle menatap cowok itu. Ada seutas senyum yang menyertai ucapan Finn kali ini. Dan Cle tahu, cowok itu sedang tidak bercanda.

*

Tidak biasanya Finn datang bertamu pada Minggu pagi. Ketika ia dan Miya tengah sibuk dengan tugas sekolah mereka.

“Van Gogh. Bukankah dia seorang sinestetis? Chromesthesia, sama sepertimu,” ujar cowok itu. “Mungkin, kamu bisa melukis semua warna yang kamu dengar. Seperti yang lain.”

Kepala Cle sontak menggeleng. Gadis itu tidak yakin ia bisa. Sejak Mama meninggal, Cle tidak pernah menyentuh peralatan melukisnya lagi. Melihat warna-warna yang disaputkan pada sehelai kanvas tidak hanya membuatnya teringat bahwa dirinya berbeda, tapi juga pada kenangan akan Mama serta tanggapan menyakitkan dari beberapa kerabatnya.

“Aku… tidak bisa,” jawabnya.

Finn menatapnya. Dan Cle tahu, seperti juga Miya, cowok itu bisa membaca ketakutan yang tergurat di hatinya. “Aku yakin mereka pasti tidak menganggapmu aneh. Duniamu itu terlalu menarik, Cle,” kata Finn sambil tersenyum.

“Lagi pula lumayan, ‘kan, bisa dibuat untuk pameran seni sebulan lagi,” tambah Miya.

“Ayolah, aku penasaran seperti apa warna-warna musik yang kumainkan. Anggap saja ini sebagai penebusan maafmu karena menyuruhku berhenti bermain biola.”

Entah ini hanya perasaan Cle atau memang benar ia mencium bau persekongkolan antara Miya dan Finn. Namun, yang jelas, meski sedikit tergoda gadis itu berniat untuk kukuh pada pendiriannya.

“Mau, ya?”

Gadis itu mengembuskan napas, lalu menggigit bibirnya kuat. “Hanya satu,” kata Cle pada akhirnya.

Senyum Finn terkembang lebar ketika mendengarnya. Sungguh, Cle membenci dirinya sendiri karena tak mampu menolak permintaan Finn.

*

“Sudah kubilang, ‘kan, kalau duniamu ini benar-benar menarik?”

Seharian ini, perkataan Finn ketika ia menyelesaikan satu lukisan warna terus berputar di benak Cle. Setelahnya, Finn meminta gadis itu untuk melukis lagi. Hal yang bagi Cle terasa begitu menyebalkan, sebab dirinya kembali mengiyakan dan menyaputkan warna-warna yang ia dengar selagi Finn menggesek biola.

“Pancarona,” gumam Miya.

“Apa?”

“Beragam warna; warna-warni. Suatu saat, jika kamu menggelar pameran lukisan, sepertinya kata itu cocok. Pancarona: The Colours of Music.”

Pameran seni sekolah berlangsung hari ini. Persis seperti yang Cle duga, ada banyak pertanyaan perihal lukisan miliknya. Pertanyaan yang pada akhirnya berujung pada terbukanya rahasia yang Cle simpan dari teman-temannya yang lain. Dan entah mengapa, Cle justru merasa lega dan tak terlalu peduli akan anggapan mereka.

Cle memejamkan mata. Ia bisa merasakan tatapan Miya yang masih lekat padanya. Tiga hari lalu, Finn datang dan meminta satu lukisan warna dari melodi Serenade untuk dirinya. Sebagai kenang-kenangan, begitu cowok itu berkata. Dan seharusnya, Cle menyadari apa artinya. Hanya saja, ketika itu ia terlalu senang bisa memberikan sesuatu yang membuat mata Finn berbinar.

“Kamu juga memikirkannya, ‘kan, Cle? Pameran lukismu sendiri,” ucap Miya lagi.

Cle mengembuskan napas. Satu tangannya merogoh salah satu saku tas ransel di pangkuannya. Gadis itu mengambil sebuah bingkisan yang Finn berikan sebelum cowok itu berangkat ke New York kemarin sore kemudian membukanya perlahan. Di dalamnya, ada sebuah kaset dan secarik kertas dengan sederet huruf yang Cle kenali sebagai tulisan tangan Finn.

 

Hai, Cle… :)

Sayang sekali, aku tak bisa datang di pameran seni sekolahmu. Sungguh, aku penasaran bagaimana reaksi teman-temanmu. Kutebak, mereka pasti sama kagumnya dengan diriku. Menganggap duniamu menarik dan menakjubkan. Kalau pun tidak, itu bukan masalah besar.

Kaset ini kupersiapkan untukmu. Isinya? Permainan-permainan biola yang sengaja kurekam. Hanya ada sepuluh lagu. Jadi, ketika kamu sudah melukis semua warna dari melodi-melodi di sini, kamu bisa melukis lagu-lagu lain yang kamu dengar. (Atau… kamu bisa menghubungiku lewat Skype dan memintaku memainkan satu lagu. Kamu tahu, ‘kan, aku takkan pernah menolak.)

Meski kamu selalu bilang melukis warna musik bukan hal yang benar-benar baru, tapi berjanjilah kamu akan terus melukis. Mungkin, suatu saat kita bisa berkolaborasi lagi. Aku bermain biola, dan kamu melukis warna-warna yang kamu dengar dari permainan biolaku. Mungkin juga, warna-warnamu itu akan menjadi latar belakang ketika aku mengadakan resitalku nanti. Mimpi yang indah, bukan?

 

Finn :)

 

Sekalipun Cle ingin marah karena Finn merahasiakan keberangkatannya hingga semua terasa begitu mendadak, gadis itu tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Kekecewaannya memudar bersamaan dengan dadanya yang berangsur menghangat.

“Miya,” ucap Cle pelan. “Kamu mau menemaniku melukis sepulang dari sini?”

“Kapan pun, Cle,” jawab Miya sambil memeluknya. “Kapan pun.”

Tangan Cle menggenggam erat kaset pemberian Finn. Ini mungkin hanyalah hadiah sederhana, tapi bagi Cle begitu berarti. Dan mimpi itu—mimpi yang Finn miliki, dan sekarang Cle mulai memiliki mimpi yang sama—gadis itu sungguh ingin menjadikannya nyata. [L]

======================================================================================

Bagaimana rasanya bisa ‘melihat’ warna dari bunyi-bunyian? Sejak 4-5 tahun lalu mengetahui ada sebuah kelainan bernama sinestesia, pertanyaan itu selalu memenuhi benak saya. Meski, menurut saya, sinestesia lebih tepat jika dikatakan anugerah.

Karenanya, sejak hari itu juga, saya sudah memantapkan diri untuk menulis tentang sinestesia warna-bunyi dalam sebuah cerita fiksi–dalam hal ini cerita pendek. I still don’t have enough guts (times too!) to write a super-long story. 

Ide cerita sudah dipegang, lalu apa? Hehe… Ketika saya menuliskannya, cerita ini mandeg. Entah karena plot yang kurang kuat atau karena hal lain, hingga akhirnya saya memutuskan berjarak dengan ide cerita ini. Berjarak sampai dua tahun lebih. :P

Akhir tahun lalu, cerita ini selesai ditulis. Ketika itu kelas MJG batal libur, yang membuat saya spontan kalang-kabut karena sudah membayangkan bakal leyeh-leyeh sampai akhir tahun. Hingga saya teringat cerita ini.

Awalnya, saya mau meneruskan cerita yang dulunya mandeg di tengah jalan, namun akhirnya memilih untuk merombak ulang cerita dari awal. Perubahan-perubahan yang dibuat cukup frontal. Mulai dari sudut pandang cerita, plot dan alur cerita, sampai persoalan nama. Nama Cle di sini saya pinjam dari nama anak bungsu Mbak BE Priyanti. (Sejak pertama mendengar namanya, saya langsung jatuh cinta.)

Perjalanannya memang cukup panjang, dimulai dari menemukan ide mentah hingga menjadi sebuah cerita utuh. Dan ketika selesai menuliskannya, saya merasa puas. Meski akhirnya dapat masukan di sana-sini tentang cerita yang cenderung berat, dan membuat saya memutuskan untuk mengganti ending cerita.

Sekitar awal 2017, saya mengirimkan cerpen ini ke Gogirl! dan dimuat di Weekend Web Story 5 Maret lalu. Sekaligus menjadi karya saya kedua di media tahun 2017 ini.

Sungguh, perjalanan panjang yang berbuah manis. :’)  [L]

Advertisements

One thought on “Pancarona

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s