Anggrek Kesayangan Nenek


Dimuat di Bobo edisi 48, 9 Maret 2017

Anggrek Kesayangan Nenek

Oleh: Leanita Winandari

 

Bagi Nadya, bunga anggrek merpati milik Nenek yang bergerumbul pada dahan pohon rambutan itu sama sekali tidak menarik.

Anggrek merpati itu dibawa Nenek ketika pindah ke rumah mereka tiga bulan lalu. Mulanya Nadya gembira ketika Nenek membawa bunga anggrek. Ia membayangkan bunga anggrek cantik seperti anggrek bulan.

‘Yang ini bunganya juga tidak kalah cantik dengan anggrek-anggrek yang lain. Bentuknya seperti merpati,’ Nenek menjelaskan sembari mengikat keiki atau anakan anggrek pada dahan pohon rambutan.

Tapi anggrek merpati Nenek tidak seperti yang Nadya harapkan. Batangnya pendek, membengkak di bagian bawah. Sebagian akarnya bergelantungan, membuat Nadya berpikir bahwa bunga itu lebih mirip benalu. Bunganya yang kecil-kecil mekar secara bersamaan, berwarna putih dengan lidah agak kekuningan.

Benar-benar mirip merpati. Menurut Ita, bunga anggrek biasanya tahan lama. Bahkan hingga sebulan lebih. Namun, anggrek merpati di rumah Nadya langsung rontok keesokan harinya.

‘Kenapa tidak dibersihkan saja, Bun?’ tanya Nadya ketika anggrek-anggrek tumbuh semakin banyak dan membuat halaman terlihat kotor dan tak terurus.

Bunda tersenyum dan menggelengkan kepala pelan, membuat Nadya semakin merasa kesal.

Keputusan Nadya sudah bulat. Hari Minggu, Nadya mempersiapkan semua peralatan yang dibutuhkan. Sebuah gunting besar dan sarung tangan khusus untuk berkebun. Kebetulan sekali Bunda dan Nenek sedang pergi ke pasar.

Nadya menggerakkan gunting dengan cekatan, seperti yang pernah diajarkan Nenek. Diulanginya gerakan yang sama hingga tangan Nadya terasa pegal. Batang-batang bunga anggrek berserakan di tanah. Nadya mengumpulkan batang-batang itu dan membuang ke tempat sampah besar di depan rumah.

Ia memandang halaman dengan senyum puas terkembang. Sekarang, tidak ada anggrek merpati yang tersisa di pohon rambutan.  Halaman kembali rapi dan bersih, seperti harapan Nadya.

Nenek dan Bunda baru datang ketika Nadya duduk di teras sambil memandangi hasil kerjanya sekali lagi. Langkah Nenek terhenti, dahinya berkerut ketika melihat ke arah pohon rambutan.

‘Nadya capek, ya, setelah bersih-bersih? Ini, tadi Nenek belikan sewaktu belanja,’ kata Nenek sambil menjulurkan semangkuk bubur kacang hijau, kesukaan Nadya.

Nenek tidak marah. Bunda juga. Bahkan hingga saat makan malam pun tidak ada yang menyinggung soal anggrek merpati di halaman.

Namun entah mengapa, Nadya justru merasa bersalah.  Terlebih, ketika ia teringat perkataan Bunda beberapa waktu lalu. Anggrek merpati adalah bunga kesayangan Nenek.

*

Entah kenapa, anggrek merpati Nenek entah mengapa tumbuh lagi. Padahal Nadya yakin sekali Nenek tidak pernah mengikat keiki baru di dahan pohon rambutan.

‘Wah, manis. Aku mau lagi dong, Nad!’ seru Ita sambil mengunyah buah rambutan terakhir.

Nadya mengangguk, lalu mengambil galah dan berusaha menjangkau buah di dahan yang lumayan tinggi. Sebuah ranting kecil dengan beberapa buah rambutan yang berwarna merah bergelantungan pada kait di ujung galah. Dengan tak sabar, Nadya dan Ita segera mengupas kulit rambutan dan melahap dagingnya.

Pohon rambutan di depan rumah Nadya memang sedang berbuah. Rasanya manis, membuat Nadya selalu menanti-nanti musim rambutan tiba.

‘Jangan banyak-banyak makannya, Nad,’ tegur Bunda ketika mendapati Nadya yang lagi-lagi sedang asyik melahap rambutan.

Nadya hanya mengangguk tanpa terlalu memedulikan perkataan Bunda.

*

‘Bun…’ panggil Nadya.

Suara Nadya terdengar serak. Bunda yang sedang memasak langsung menoleh dan bergegas menghampiri,  lalu menaruh punggung tangannya di kening Nadya. Suhu tubuh Nadya agak hangat.

Bunda mengambil segelas air hangat dan memberikannya pada Nadya. Diteguknya air hangat itu, tapi Nadya mengernyit. Tenggorokannya sakit, perih sekali.

‘Kamu balik ke kamar saja, Nad, tiduran dulu,’ kata Bunda.

Nadya menurut dan segera merebahkan tubuhnya di kasur. Tak lama Bunda masuk ke kamar Nadya bersama Nenek. Di tangan Nenek, ada segelas air berwarna kehijauan. Bunda bilang, jika ingin cepat sembuh, harus minum air ramuan itu sehari tiga kali.

Nadya menahan napas ketika meminum air dalam gelas itu. Baunya seperti bau batang dan dedaunan, rasanya juga sedikit aneh.

‘Nah, sekarang kamu istirahat, biar cepat pulih,’ kata Nenek dan Bunda hampir bersamaan.

*

Anggrek merpati Nenek tumbuh semakin banyak, bergerumbul di pohon rambutan. Ada beberapa yang ditaruh di dalam pot-pot gantung.

Kata Bunda, obat yang diminum Nadya waktu terkena radang tenggorokan adalah perasan batang anggrek merpati. Nenek menumbuk beberapa batang, memeras, dan menyaring air perasan hingga menjadi ramuan yang diminum Nadya.

Beruntung, waktu Nadya memangkasnya, ada beberapa keiki yang luput dari gunting kebun. Itu kenapa anggrek merpati Nenek tumbuh lagi.

‘Nenek terkena rematik, Nad. Tiap hari nenek juga minum air perasan dari anggrek merpati,’ lanjut Bunda sembari membersihkan akar-akar anggrek yang mongering.

Bunganya memang tak secantik anggrek bulan. Juga tidak istimewa karena bisa tumbuh di mana saja. Tapi Nadya tahu, anggrek merpati seperti milik Nenek memiliki kegunaan sebagai obat-obatan herbal.

Kini, anggrek merpati bukan hanya menjadi bunga kesayangan Nenek. Tapi bunga kesayangan Nadya juga. [L]

========================================================================================

Bobo edisi 48, 9 Maret 2017

Sejak kecil, saya memang sudah menyukai anggrek. Bunga yang cantik serta unik membuat saya langsung jatuh cinta ketika pertama melihatnya.

Saking cintanya saya pada anggrek, pada ulang tahun ketujuh belas, seseorang menghadiahi saya anggrek bulan yang tengah cantik-cantiknya. Bahagia? Jangan ditanya. Zaman segitu, sekitar dua belas tahun lalu, uang saku saya kerap habis untuk membeli buku Gibran dan Rumi–soal ini, sekarang saya sering takjub sendiri. Rasanya eman kalau saya membelajakan sisa uang saku untuk membeli anggrek yang mahal dan susah-susah gampang (banyak susahnya) untuk dirawat.

Sekarang, anggrek itu sudah mati. Sedangkan anggrek-anggrek yang lain terlihat merana karena kurang perawatan. Yang tersisa hanya cattleya (sounds like my name, eh?), dan anggrek-entah-apa-namanya berwarna ungu dengan bunga kecil namun kompak serta tahan lama seperti anggrek pada umumnya.

Jadi, ketika di kelas MJ Anak 4, Mbak Nur meminta kami untuk menulis cerita anak tentang bunga yang juga berkhasiat untuk obat-obatan, saya langsung teringat anggrek. Sebenarnya, khasiat anggrek untuk obat bukan hal baru bagi saya. Ketika saya kecil, Nenek kerap menggunakan anggrek merpati untuk mengobati sakit telinganya. Namun, ketika riset lebih jauh, saya jadi tahu kalau anggrek merpati juga bisa mengobati radang tenggorakan.

Cerita tentang Nadya, Nenek, anggrek merpati ini ditulis sekitar Mei tahun 2015. Dikirim tak lama sesudahnya. Dan karena tak kunjung dimuat juga, Mbak Nur mengusulkan untuk mengirimkan ulang pada pertengahan tahun lalu. Tapi, dasarnya saya memang pelupa dan sedikit malas, saya baru mengirimkan ulang bulan September lalu, dengan sedikit revisi pada cerita. Dan yang dimuat adalah versi revisi.

Sedikit kaget juga ketika Mbak Yayan mengirimkan pesan WA pada Senin malam. Terlebih, kala itu, saya masih dilanda euforia dimuatnya cerpen remaja saya (Pancarona) di GoGirl! sehari sebelumnya.

Seemed like it turned out to be my best week in 2017 so far. [L]

P.S: btw, melihat kaver Bobo edisi 48 ini, ternyata memiliki kesamaan dengan ilustrasi Pancarona. Biola! <3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s