Patung Pembawa Keberuntungan


Dimuat di Majalah BOBO edisi 01, Tahun XLV (13-19 April 2017)

 

Patung Pembawa Keberuntungan

Oleh: Leanita W.

 

Di sebuah desa kecil,  hidup seorang kakak beradik yatim-piatu bernama Mila dan Ivan. Hidup mereka sangatlah berkekurangan. Karena itu mereka bekerja keras untuk bisa makan. Mila bekerja mencuci pakaian milik tetangganya yang kaya. Dan Ivan mencari makanan di hutan.

Suatu hari, ketika Ivan hendak mencari bahan makanan, dia melihat beberapa orang mengerumuni sebuah patung di alun-alun desa. Patung itu setinggi orang dewasa. Dipahat dari sebuah batu oleh seorang seniman di desa mereka. Konon, ketika seeorang menggosok jari kaki patung dengan tangannya, keberuntungan akan berpihak pada orang itu.

Tapi Ivan tidak percaya. Bukankah itu cuma sebuah patung? Jadi, dia terus berjalan menuju hutan. Seharian dia mencari apa saja yang bisa dimakan. Buah beri, apel, jamur.

Setelah mendapatkan banyak bahan makanan, akhirnya Ivan memutuskan untuk pulang. Bahan makanan ini pasti akan cukup untuk tiga hari ke depan, pikirnya. Dia pun berjalan dengan riang, bersiul, sambil membayangkan sepotong pie apel kesukaannya.

Baru saja Ivan memasuki desa, tiba-tiba seseorang berteriak padanya…

“Hei, kau!”

Ivan menghentikan langkah. Dia mulai takut. Dadanya berdebar-debar. Perampokkah itu? Dia membalikkan badan, dan seketika bernapas lega. Yang memanggilnya ternyata seorang petani yang sudah dikenalnya.

“Apel ini milikmu, bukan?”

Mata Ivan membelalak. Tidak mungkin. Seakan tahu kebingungan Ivan, petani itu akhirnya berkata, “Karungmu berlubang, Nak. Cobalah lihat sendiri.”

Ivan langsung menurunkan bawaannya. Benar saja, ada lubang besar menganga di tengah karung. Karung yang tadinya berisi penuh, kini isinya sudah tinggal sedikit sekali. Pantas saja dia merasa barang bawaannya semakin ringan.

Ivan mendesah. Dia ingin menangis, namun malu pada petani tersebut. Karena merasa iba, sang petani memberinya secarik kain tak terpakai untuk menggantikan karung. Ivan pun pergi setelah mengucapkan terima kasih.

Apa yang akan digunakannya esok hari ketika ke hutan? Dia tak punya wadah atau karung lain. Harga karung dan tas mahal, dia tak punya uang banyak.

Di alun-alun kota, langkah Ivan terhenti. Dia menatap patung batu itu. Patung pembawa keberuntungan, kata para penduduk desa. Suasana sedang sepi, karena ini sudah malam. Dan patung terlihat bersinar di bawah cahaya rembulan.

“Tak ada salahnya mencoba,” gumam Ivan.

Maka, dia pun menggosokkan telunjuknya pada jari kaki patung. Dia berkata dengan suara lirih. “Sebenarnya, aku tak ingin percaya. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku butuh sebuah karung untuk digunakan menampung hasil pencarianku di hutan.”

Sesaat setelah mengatakan hal itu, Ivan merasa malu. Tak seharusnya dia mengeluhkan ini di hadapan sebuah patung. Dia melangkah pulang dengan gontai, membawa sedikit bahan makanan yang tersisa.

“Kau lama sekali,” ucap Mila cemas.

Ivan menceritakan kejadian karung berlubang itu pada kakaknya.

“Sudah, tidak apa-apa. Masih ada yang tersisa. Ini sudah cukup untuk besok. Sekarang, makan dan tidurlah.”

*

Pagi harinya, Ivan terbangun oleh teriakan Mila. Dia langsung beranjak dari kasurnya yang keras, dan menemukan kakaknya tengah berdiri sambil menutup mulut tak percaya.

Di depan pintu, ada sebuah karung. Dilihat dari bentuknya, karung itu pasti baru dibeli dari sebuah toko. Dan harganya masih mahal. Ada sebuah tulisan yang berbunyi: UNTUK PEMUDA YANG MEMBUTUHKAN SEBUAH KARUNG.

Karung itu untuknya. Ivan gembira sekali. Dia mengucapkan syukur karena doanya di depan patung itu didengar. Dengan bersemangat, dia pun berangkat ke hutan untuk mencari bahan makanan.

Keesokan harinya, karung serupa kembali tergeletak di depan pintu. Kali ini hanya karung. Ada beberapa roti lezat, sekantung kecil uang emas, dan tulisan yang sama dengan kemarin.

“Kita tidak mungkin memakan semua roti ini, Kak. Ini terlalu banyak. Lagipula, kita tidak mungkin menyimpannya. Besok, roti akan berjamur.”

Mila mengangguk. Mereka menyisihkan roti untuk makanan mereka hari ini dan membagikan sisanya. Uang itu mereka simpan untuk kebutuhan mendesak di kemudian hari.

Tak mau terlena dengan adanya roti di rumah, Ivan tetap berangkat ke hutan, mencari buah-buahan untuk teman makan roti.

Kejadian itu berulang keesokan harinya, dan esok harinya lagi. Kedua bersaudara itu tetap membagikan roti-roti kepada tetangga mereka. Menyimpan uang yang ada, dan Ivan tetap pergi ke hutan.

Begitu seterusnya, hingga suatu saat Mila berkata bahwa uang emas yang terkumpul sudah banyak. Beberapa koin emas sudah mereka belanjakan untuk perabotan rumah, namun sisanya masih banyak. Mereka pun kebingungan akan menggunakan uang tersebut untuk apa.

Aha! Tiba-tiba Ivan teringat sesuatu. Dia pun menyampaikan pikirannya pada sang kakak. Mila setuju, matanya berbinar-binar. Mereka setuju untuk membeli sebuah lahan di dekat rumah mereka dan mulai bertani.

Sejak saat itu, Ivan tak perlu lagi pergi ke hutan. Dia menanam bermacam-macam sayuran di lahan miliknya. Mila mengurus pekerjaan rumah dan membayar gaji-gaji para pekerja. Oh ya, karena Ivan tak sanggup mengerjakan semua sendiri, ia memperkerjakan yang menganggur.

Mereka pun kini hidup berkecukupan dan bahagia.

Semua berkat seorang raja baik hati. Ketika sedang beristirahat di balik patung batu, sang raja mendengar permintaan Ivan. Dia menyuruh pengawal kerajaan mengikuti pemuda itu sampai ke rumah, dan memerintahkan untuk meninggalkan karung, roti, dan uang.

Raja sangat kagum akan keteguhan dan kebaikan hati kedua bersaudara tersebut. [L]

======================================================================================

Minggu pagi, 9 April lalu, saya dibuat sedikit kaget ketika Mbak Hamidah Jauhary mengirimkan pesan WA di grup Merah Jambu dan mengabarkan kalau ada karya saya dimuat di Bobo terbaru. Dan semakin kaget ketika melihat judul yang dimuat adalah dongeng yang saya kirim Januari 2015.

Lama, ya? Banget. Tapi setelah saya cek, ternyata saya malah keliru mengirimkan ke alamat surel lama BOBO, dan bahkan tidak dikirim ke alamat surel baru. My bad! But the good part is I sent this story’s hard copy by post office three months later. And oh I guess I’m one of those lucky people, meskipun saya nggak pernah menang undian, eh.

Dongeng ini terasa spesial bagi saya karena dimuat bertepatan dengan ulang tahun majalah BOBO yang ke-44. Dan satu lagi karena alasan yang tidak bisa saya jelaskan di post ini dan sukses bikin saya senyum-senyum nggak jelas–I promise to write about this one later. 

Last but not least, I’m trully in love with this story’s illustrations! Cantik, manis, dan khas dongeng banget. <3 Thanks, Mas Adit Galih. [L]

Ilustrasi yang sungguh juara <3
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s