Connecting Dots


Saya kerap kali berpikir bahwa hal-hal kecil yang terjadi sebenarnya adalah titik-titik yang, pada akhirnya, akan saling terhubung membentuk satu garis dengan satu kejadian di masa yang akan datang. Bukan hanya sekali saya merenung–atau melamun?–hanya untuk mengingat titik-titik di masa lalu dan menghubungkannya dengan masa sekarang. I still don’t find ‘them’, anyway. Tapi mungkin saya sudah menemukannya, satu–and it’s enough to make me, errr, happy, proud, I don’t know. Haha 

Charming Old Town Split and its gorgeous Adriatic Sea from above (photo credit: European Best Destinations)

Ketika kecil, saya tidak hanya tumbuh dengan cerita-cerita tentang negeri Belanda. Ini baru saya sadari hingga sekitar 6-7 tahun lalu, setelah seorang teman memberitahu perihal kota bernama Split di Kroasia. That time, I was like: ‘really?’ and laughing hard. Though I still checked about that city, if you want to know.

Saya benar-benar nggak tahu kalau ternyata kota itu memang ada. Maka, ketika selesai googling, saya cuma bisa mikir: ya ampun, kota ini kok cantik bener. He-eh, it’s just a small city, but, oh my God, it’s charming and gorgeous. Ada sesuatu dalam kesederhanaan kota ini yang membuatnya terlihat begitu cantik, sekaligus membuat saya jatuh cinta. Bahkan hingga sekarang.

Jauh sebelum hari itu, saya sudah merasa ‘akrab’ dengan negara-negara Balkan–khususnya negara-negra pecahan Yugoslavia. Iya, apalagi kalau bukan karena perang saudara itu. Ingatan tentang perang saudara di Yugoslavia sendiri sebenarnya terlalu kabur. Saya baru lima tahun, dan saya nggak tahu kenapa otak saya waktu itu kuat banget menerima berita soal perang.

Belum lagi, yang membuat saya kian yakin titik-titik dalam kehidupan saya sudah jelas membentuk salah satu garisnya, adalah ingatan nggak penting setiap World Cup dan EURO. Setiap dua kejuaraan itu digelar, elain menjagokan Jerman, ayah saya selalu menjadi pendukung timnas Kroasia. Sampai sekarang, saya belum paham apa alasannya, dan saya juga nggak (mau) berusaha mencari tahu.

Sampai di sana, ketika sadar garis itu mulai terhubung, saya cuma berho-oh ria dan berpikir kalau suatu saat saya bakal menulis cerita yang berhubungan dengan Split (atau Kroasia, atau negara Balkan lainnya). Karena penyakit malas selalu saja menghinggapi, rencana itu tinggal rencana. Hehe…

Semua berubah ketika saya membaca The House of Hades (buku keempat seri Heroes of Olympus). Itu kebetulan, iya. Saya masih sempat tertawa ketika Leo Valdes berkata: Though I still don’t get why you want to go to Croatia, especially a town called Split. I mean, you name your city Split, you gotta figure it’s a warning to, you know, split. Kind of like naming your city Get Out!’ That’s exactly what I thought the first time I heard about that city, guys! Tapi ketika mereka hampir berlabuh di Split, dan Leo berteriak, ‘It’s time to Split!’, saya merasa kata-kata itu seperti ditujukan pada saya. Duh!

Jadilah. karena merasa ‘berutang’, saya mulai menulis tentang Split. It’s gonna be a long, long story I ever make. Dan sampai ketika saya menulis ini, saya masih belum tergerak menyelesaikan, eh. Too much projects, too much pressures. *deep sigh* 

Tapi… sekalipun yang itu belum kelar dan entah kapan kelarnya, saya tetap melabeli kota ini sebagai kota istimewa. Kenapa? Karena beberapa cerita pendek yang saya tulis kebanyakan terinspirasi dari Split. Cerpen dewasa saya di Femina tahun 2015 lalu, mungkin tidak akan pernah saya tulis kalau saja tidak memaksakan diri untuk menulis sesuatu tentang kota itu. Dongeng anak yang dimuat di Bobo dua minggu lalu pun terinspirasi dari kota yang sama.

Masih ada satu dongeng anak, ini kesayangan banget, yang masih berjuang di meja redaksi Bobo. Dua cerpen dewasa yang saya simpan, juga satu cerita pendek berbahasa Inggris yang belum tahu mau saya apakan sampai sekarang.

Beberapa teman di kelas bahkan menyadari kalau saya beberapa tulisan saya selalu ‘bermuatan’ tentang Split atau Kroasia, saking seringnya saya menulis tentang dua hal itu. *face palm*

Mungkin saja kalau titik-titik yang sudah berupa garis ini hubungannya memang tak jauh-jauh dari ide. And I’m trully grateful for it. Jarang banget saya bisa selancar itu menulis tentang kota nun jauh di sana, juga hal-hal kecil yang berhubungan dengannya. I’d tried to write short stories that is set in Amsterdam and New York City before–two cities on the top of my bucket list. It was okay though, but still it’s not as good as like I expected to be. [L]

Advertisements

3 thoughts on “Connecting Dots

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s