Satu Rahasia


Dimuat di GoGirl! Weekend Web Story, 23 April 2017

Satu Rahasia

Oleh: Leanita Winandari

Aku selalu mengingat perkataan Ayah bertahun-tahun lalu: terkadang, satu rahasia kecil yang terucap adalah awal dari terbangunnya sebuah kepercayaan. Seperti dua bulan lalu, ketika murid baru di kelasku, Feby menceritakan sebuah rahasia padaku.

‘Kamu serius?’

Sebenarnya, aku tidak ingin mengatakannya. Namun pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirku tanpa bisa kucegah. Dan rasanya, terlalu sulit untuk memercayai perkataannya itu. Kupandangi Feby sekali lagi. Raut wajahnya tidak berubah. Kecuali dia begitu pandai bersandiwara, aku bisa memastikan bahwa dia tidak sedang bercanda.

Aku menghela napas dalam sementara benakku memutar kembali ucapannya. Tentang fobianya akan buah jeruk.

Bima, sahabatku, memiliki rasa takut pada belalang—hal yang membuatku kerap meledeknya karena tubuh tinggi besarnya serta status ketua eskul Pencinta Alam yang dia sandang. Dan aku sendiri, pernah memiliki fobia asing pada suara decitan nyaring serta suara benda-benda yang bergesekan.

Namun tetap saja, apa yang kudengar dari Feby itu masih terlampau aneh bagiku. Maksudku, hey, bagaimana mungkin seeorang memiliki ketakutan-tidak wajar akan buah? Dalam kasus Feby itu, jeruk. Jeruk berwarna oranye cantik dengan rasa asam-manis nan segar. Membayangkan saja sudah cukup membuat ingin segera berlari ke kantin demi segelas es jeruk segar. Apalagi, sebelum pindah kemari, Feby tinggal di kota tetangga yang terkenal sebagai penghasil jeruk berkualitas.

‘Aneh, ya?’ Ucapan Feby itu disertai tawa kering yang jika mengingatnya membuatku merasa bersalah. Sebab, sampai sekarang pun, aku masih belum sepenuhnya percaya.

Dan sekarang, gadis itu berdiri kikuk di hadapanku. Roman mukanya tampak gelisah, sementara tangannya meremas rok yang dia kenakan. Entah apa yang ada di pikirannya, aku tidak tahu.

‘Kamu bisa mengantarku sebentar ‘kan, Isma?’ katanya kemudian.

Dahiku mengernyit dalam. Tidak biasanya dia melontarkan perkataan dengan setengah memohon seperti ini. Lagi pula, tanpa tatapan memelasnya itu, aku dengan senang hati menemaninya.

‘Mau mentraktirku?’ godaku sambil tertawa kecil.

Gadis itu menggeleng perlahan, membuatku merasa salah tingkah. ‘Sebentar saja. Nanti aku ceritakan. Mau, ya?’

Maka, aku pun mengangguk dan tidak mengajukan pertanyaan lain. Meski, tetap saja, aku tidak bisa menekan rasa penasaran.

Selagi mengikuti langkah panjang kakinya, aku meliriknya. Pada waktu-waktu normal, senyum manis tidak pernah alpa menghiasai paras cantiknya itu. Dan, aku baru menyadarinya, sedari pagi tadi tingkah Feby memang sedikit berbeda. Selama ini, dia memang tak pernah banyak bicara. Namun keheningan yang melingkupinya saat ini terasa begitu kental.

Aku mendesah. Entah bagaimana aku bisa melewatkan perubahan sikapnya itu. Bagaimana pun, kami adalah teman dekat—atau, setidaknya, aku berpikir begitu.

‘Setelah lulus nanti, kamu berencana kuliah di mana?’ Ini hanya pertanyaan basa-basi. K baru akan lulus dua tahun lagi. Namun, aku tidak tahu harus berbicara apa. Karena semakin lama, keheningan yang menggantung di antara kami mulai membuatku frustrasi.

Kepala Feby menggeleng pelan. Langkahnya masih terayun, meski kali ini gerakannya sedikit melambat.

‘Yang benar?’ tanyaku lagi sembari memutar bola mata. Sependek yang kutahu, gadis itu selalu merencanakan semuanya dari jauh-jauh hari. Dan tanggapannya barusan membuatku semakin bertanya-tanya tentang apa yang terjadi padanya.

‘He-eh.’

Hanya itu yang keluar dari bibirnya. Yang terjadi setelahnya, adalah aku yang bermonolog tentang rencanaku masuk Fakultas Hukum setelah lulus nanti dan gosip yang beredar di sekolah. Sesekali aku menyelipkan lelucon—yang walau bagiku biasa saja, namun biasanya cukup membuat gadis itu tertawa. Meski, pada akhirnya, Feby hanya menanggapiku dengan anggukan atau ‘oh’ pendek, serta tawa yang terdengar jelas dipaksakan.

Tiba-tiba, langkah Feby terhenti di depan sebuah rumah bergaya aksitektur kolonial Belanda di dekat sebuah gang lebar, tak jauh dari rumah lamaku. Perlahan, aku merapatkan jaket tipis yang kukenakan. Entah mengapa, rasa dingin mulai merayapi punggung dan membuat bulu kudukku meremang.

‘Pohonnya,’ ujar gadis itu, nyaris seperti bisikan. Tatapannya lekat pada tunggul pohon yang sepertinya belum lama ini ditebang.

Kedua alisku serta-merta bertaut. Pohon? Aku memerhatikan gadis itu. Wajahnya kini semakin muram, membuatku mulai berpikir kalau-kalau saja Feby kerasukan roh halus. Seperti Feby, meski aku tidak mau, pandanganku kini lekat pada tunggul pohon.

‘Kita belum sampai, bukan? Ayo lanjut lagi,’ kataku kemudian. Semakin lama berada di tempat ini membuatku semakin mual dan ingin segera beranjak.

Namun Feby menggeleng dan memilih duduk di pinggiran trotoar. Setelah keheningan panjang, gadis itu akhirnya bersuara, ‘Aku menuruti saranmu waktu itu, Is.’

Keningku berkerut, sementara aku mulai kembali mengorek kenangan apa yang tengah dia bicarakan. Dan mungkin, kebingungan yang tergurat di wajahku begitu jelas, karena setelahnya dia berucap dengan disertai desahan pelan, ‘Untuk melakukan konseling. Tentang fobiaku.’

Oh. Setelah mengetahui rahasia itu, aku menyarankan Feby untuk menemui konselor yang dulu menangani perihal fobiaku dulu. Ketika aku mengatakannya, Feby tidak menanggapi apa-apa. Kala itu aku berpikir, mungkin ia tidak serius tentang fobia jeruknya itu. Atau, mungkin saja, fobianya itu tidak membawa pengaruh besar baginya. Karenanya, aku sedikit terkejut ketika dia berkata menemui konselor untuk mengatasi fobianya.

‘Lalu, bagaimana?’ Suaraku sedikit bergetar ketika mengatakannya. Aku bisa merasakan degup jantungku yang kian keras, hingga nyaris memekakkan telinga. Perlahan, aku kembali merapatkan jaket ketika rasa dingin kembali menyergapku.

Jangan sekarang. Dua kata itu kuucapkan berulang kali, hingga kemudian detak jantungku mulai melambat.

Feby mengangkat bahu. tidak terlihat yakin dengan apa yang akan diucapkannya. Dengan helaan napas yang terdengar berat, dia berkata. ‘Reframing.’

Aku menoleh. Istilah itu tidaklah asing di telingaku. Ini tentang mengunjungi masa lalu, ketika fobia itu pertama kali bermula. Dulu, aku pernah melakukannya. Rasanya begitu menyakitkan, meski setelahnya aku merasa lebih baik. Dan kini, setelah kupikir lagi, sepertinya cara itu tidak terlalu berhasil.

‘Tujuh tahun lalu, kami kecelakaan di sini. Aku dan mendiang kedua orangtuaku,’ lanjutnya.

Lalu, cerita-cerita itu mulai meluncur dari bibirnya. Tentang kecelakaan yang tidak dia tahu bagaimana bisa terjadi karena dia tengah tertidur. Tentang hari Minggu yang seharusnya erakhir menyenangkan baginya. Jika saja pick up bermuatan jeruk berisi hasil panen kebun mereka yang hendak menuju pasar besar di kotaku tidak menabrak pohon.

Perkataannya itu terdengar begitu jelas meski disertai isak tangis yang berusaha dia tahan. Dan aku mulai berpikir, bahwa mungkin aku akan mengingat setiap kata yang dia ucapkan itu seumur hidupku.

‘Sejak hari itu, aku tidak bisa melihat buah-buah jeruk tanpa membawa ingatan itu kembali padaku. Dan yang paling kuingat, adalah aromanya yang bercampur— Aneh, ternyata menceritakannya membuatku merasa lebih baik.’

Ada kegelaan tersirat pada kalimat terakhirnya itu. Embusan napasnya yang tadi terdengar berat mulai berangsur normal. Dan, satu hal yang membuatku sedikit merasa lega, setelahnya dia tidak berkata apa-apa lagi. Sebab, aku pun tidak terlalu yakin apakah aku bisa mendengar ceritanya lagi. Semuanya sudah cukup berat untuknya, dan mungkin untukku juga.

Aku menarik napas panjang, kedua mataku terpejam dan berkali-kali mengatakan pada diriku sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Seperti yang Ayah dan konselor katakan harus kulakukan jika saja ingatan itu kembali.

Namun sepertinya, apa yang kulakukan itu tidak lagi terasa cukup. Kenangan itu kembali, menyeruak tanpa bisa kucegah. Kenangan akan satu hari ketika aku mengayuh sepeda dengan kecepatan tinggi. Matahari belum juga muncul, dan aku berbelok dari gang rumahku ke jalan raya yang masih sepi. Hingga suara decitan nyaring membuatku menoleh ke belakang dan aku hanya bisa terpaku ketika mobil pick up itu menabrak pohon lalu berguling. Selanjutnya, aku mengayuh sepedaku menjauh dengan air mata yang mulai tumpah dan membasahi pipi.

Itu hari Minggu sekitar tujuh tahun lalu. Rasanya lucu bagaimana detil-detil tentang kejadian itu baru muncul sekarang. Muatan berisi jeruk yang akhirnya berceceran di jalan raya; jeritan gadis kecil seusiaku dalam pelukan ibunya. Entah takdir apa yang membawaku kembali ke tempat semua itu bermula. Di sini, duduk bersisian dengan anak gadis yang kini mulai beranjak remaja itu.

Gagasan bahwa akulah yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi tujuh tahun kembali memenuhi benakku. Dan sekarang, mungkin gagasan itu akan terpatri selamanya.

‘Isma, kamu baik-baik saja?’

Aku tidak baik-baik saja. Itu yang ingin kukatakan, namun bibirku terkunci. Kepalaku tertunduk dalam. Aku tidak tahu apakah aku masih memiliki keberanian untuk menatap wajah gadis itu lagi dengan rasa bersalah yang mulai membuat dadaku sesak.

Ayah mungkin lupa mengatakan satu hal: terkadang, rahasia bisa terasa begitu menyakitkan dan membuat kepercayaan yang mulai terbangun seketika runtuh. [L]

 ===============================================================================

Cerpen kedua di GoGirl! Weekend Web Story. Dan seperti Pancarona sebulan lalu, kabar tentang dimuatnya cerpen ini berbarengan dengan dimuatnya satu cerita anak di Bobo terbaru. Thanks God! :’)

Jujur, cerita ini adalah salah satu favorit saya. Sejak awal menulisnya sekitar setahun lalu, saya selalu merasa kalau cerita ini spesial.

Satu Rahasia ditulis sekitar Februari tahun lalu, untuk memenuhi setoran kelas remaja di Penulis Tangguh. Awalnya, cerpen ini diberi judul Fobia dan ditulis dengan gaya bahasa jauh lebih ringan daripada versi ini. Dan setahun setelahnya, sekitar akhir Januari lalu, saya kembali diingatkan akan naskah ini dan mulai merombaknya. Mungkin karena mood saya yang lagi biru, cerita awalnya yang memang sedikit suram menjadi semakin suram.

Mbak BE Priyanti sempat menyarankan karakter Isma dibuat lebih ceria. But, since making funny and cheerful characters is not my ‘thing’ (I’m always struggling to do it), I didn’t take her advice. Duh, maafkan diriku, Mbak Eni. <3

Jadi, setelah mengendapkan naskah sekitar satu minggu dan mengedit beberapa bagian yang saya rasa masih janggal, tanggal 6 Februari 2017 saya mengirimkan Satu Rahasia ke GoGirl! Dan hari minggu kemarin, Satu Rahasia akhirnya tayang di web GoGirl. [L]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s