Jam Weker Ara


Dimuat di Majalah BOBO edisi 03 Tahun XLV (27 April – 3 Mei 2017)

Jam Weker Ara

Oleh: Leanita W.

 

Kukuruyuuukk…. Petok…

Ara membuka matanya perlahan. Mukanya ditekuk, sebal. Sejak seminggu lalu, nenek tinggal bersama di rumah Ara dan turut membawa serta beberapa ekor ayam peliharaannya.

“Kenapa ayamnya harus dibawa juga sih, Ma?” tanya Ara waktu itu.

Mama tersenyum simpul. Dia tahu Ara tak suka dengan binatang satu itu. “Sejak dulu nenek tidak suka duduk diam. Jadi untuk tetap sibuk, nenek memutuskan untuk memelihara ayam. Dan sekarang, ayam-ayam tersebut sudah dianggap seperti teman baik nenek.”

Ara cemberut. “Tapi ayam nenek berisik, Ma. Baru jam empat udah pada bunyi. Belum lagi kotorannya di mana-mana.”

Nenek memang selalu membersihkan tiap kotoran binatang itu, tapi tetap saja…

“Tidak apa-aoa. Lagian bagus, kan, kalau ada suara kokok dan petok ayam tiap pagi. Seperti pertunjukan musik gratis,” putus Mama.

Ara ingin protes, tapi melihat Mama berlalu, dia memilih untuk masuk kamar saja.

*

Kokok ayam nenek terdengar lagi. Kali ini lebih pagi. Ara langsung membuka mata dan mengucek perlahan. Tangannya menutupi mulut yang tengah menguap lebar.

Sebenarnya, Ara berniat untuk tidur lagi. Namun kali ini dia tidak bisa tidur. Lagi pula, Ara sama sekali tidak merasakan kantuk.

Perlahan, dia turun dari tempat tidur dan masuk kamar mandi untuk mencuci muka. Setelahnya Ara turun ke lantai bawah. Nenek dan Mama sudah bangun. Mereka berdua sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Mama memasak di dapur, dan nenek berkutat dengan ayam-ayam miliknya.

‘Selamat pagi, Ma,” sapa Ara.

Senyum Mama terkembang lebar. Selama ini Ara selalu susah bangun pagi. Meski sudah duduk di bangku kelas empat Sekolah Dasar, dia selalu bangun sekitar pukul enam pagi.

“Tumben bangun pagi,” celetuk Mama jahil.

Ara balas tersenyum malu. Sudah hampir semingguan ini Ara tidak bisa memejamkan mata lagi, ketika waktu subuh tiba. “Sekali-kali, Ma. Hehe.”

“Jalan-jalan sana, mumpung masih pagi, dan jalanan masih cenderung sepi.”

Hmmm… boleh juga, pikir Ara. Dia terpikir untuk mengajak nenek, lagi pula sepertinya nenek belum hafal benar daerah rumah Ara.

*

“Udaranya segar sekali, ya, Nek.”

Mereka berdua menyusuri jalanan di lingkungan rumah Ara. Seperti kata Mama, jalan masih sepi. Hanya ada beberapa orang lalu lalang. Ara sempat bertemu Pak Abu, si pengantar susu segar, dan juga Pak Yudi, loper koran yang ramah.

“Di kampung juga udaranya masih segar. Apalagi waktu pagi begini, segar dan dingin.”

Ara ingat kampung halaman Mama, rumah nenek tinggal hingga beberapa hari lalu. Tempatnya berada di lembah Gunung Gumitir. Dekat dengan hutan-hutan pinus. Udaranya benar-benar sejuk dan dingin.

“Nenek kangen, ya?”

“Iya, tapi kalau tetap di sana, nenek pasti tidak bisa ketemu sama kamu tiap hari.”

Ara terdiam. Selama ini dia hanya mengunjungi nenek ketika libur semester tiba. Padahal nenek sudah hidup sendirian sejak Kakek meninggal beberapa tahun lalu.

“Ara senang, kok, nenek pindah ke sini,” ucap Ara sambil tersenyum.

“Nanti kalau ayam-ayam itu sudah besar akan Nenek jual. Biar tidak mengganggu Ara lagi.”

Nenek tahu, Mama pasti bercerita tentang Ara yang tidak suka dengan keberadaan ayam-ayam itu. Ara memang masih merasa demikian. Sebal, dan ingin marah. Tapi Ara juga ingat perkataan Mama waktu itu. Ayam-ayam itu sudah seperti teman dekat bagi nenek.

Dan lagi, ada alasan lain buat Ara menyukai ayam-ayam itu.

“Tidak usah, Nek. Tidak apa-apa, kok.”

Mata nenek membelalak, tidak percaya. Namun kemudian, bibirnya membentuk sebuah senyuman yang manis. Penuh syukur. “Sungguh?”

Ara mengangguk mantap. “Serius, Nek.”

Mereka terus bercengkrama hingga akhirnya matahari muncul di ufuk timur. Ara mulai berpikir untuk melakukan jalan-jalan seperti ini setiap pagi. Pasti membuat tubuhnya jauh lebih sehat dan segar.

Dan soal ayam-ayam nenek, Ara punya pertimbangan lain yang lebih penting daripada suara berisik dan kotoran ayam yang bertebaran di halaman. Karena bunyi ayam nenek itulah yang membuat Ara bisa bangun pagi.

Jam weker buat Ara. [L]

==============================================================================

Kejutan. Sungguh.

Kejutan karena sebenarnya saya sama sekali tidak yakin cerita ini akan dimuat. Saya selalu merasa cerita rada meh. Nyatanya, lagi-lagi, redaksi BOBO memiliki pandangan berbeda.

Kejutan karena, seperti Patung Pembawa Keberuntungan, saya sempat keliru mengirimkannya ke alamat surel lawas Bobo. Dan, syukurlah, saya sempat mengirimkan cetak biru cerpen ini via pos.

Beberapa hari lalu saya kembali mengecek kalau ternyata bukan hanya 3 tulisan yang saya kirim ke alamat surel lama, melainkan… hampir sepuluh. God! 

Dan yang paling menyebalkan, saya benar-benar lupa, cerita mana saja yang saya kirim ulang lewat pos. (Dan saya yakin banget, tidak semuanya saya kirim ulang, karena pertimbangan cerita yang menurut saya meh itu. Duh!) Akhirnya, demi merapikan arsip dan sebagainya, saya merekap cerita-cerita yang pernah saya tulis dan kirim, termasuk kapan dimuat. I know, I know, I should have worked on this one long times before. 

Ketika Mbak Dian Restu menandai dalam kolom komentar Sastra Minggu, saya langsung tahu kalau tulisan saya dimuat di Bobo. But, like I said before, I didn’t expect for this one. 

After this, Seems like I should try to appreciate my works a bit more. [L]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s