Tarian Boneka


 

 

Dimuat di Majalah Bobo edisi 06 Tahun XLV (18 – 24 Mei 2017)

Tarian Boneka

Oleh: Leanita Winandari

 

Semua gara-gara hujan. Jika saja air hujan tidak menggenangi jalanan sekitar kompleks, kaki Liesel tidak akan keseleo. Pergelangan kaki Liesel akan baik-baik saja.

“Aku akan mengisi acara pentas seni!” pekik Selma girang.

Liesel ingin tampil di panggung seperti Selma. Ditonton banyak orang,dan diberi tepuk tangan meriah.

Pentas seni tahunan akan diadakan dua bulan lagi. Awalnya Liesel juga akan  ikut mengisi acara. Menari, bersama Selma. Mereka akan tampil berdua, berlenggak-lenggok di atas panggung. Tapi di pentas seni nanti, Selma akan tampil solo.

“Masih ada tahun depan, kamu ‘kan masih kelas empat. Jangan bersedih,” hibur Ayah.

Liesel menundukkan kepala dalam-dalam. Sebagai sahabat Selma, seharusnya Liesel ikut berbahagia.

Kalau saja kaki kiri Liesel cepat sembuh…

*

Tiga bulan, kata dokter. Cedera di pergelangan kaki Liesel tergolong parah, butuh waktu lama untuk bisa sembuh total.

Liesel termangu sedih. Tadinya dia berharap cederanya sudah membaik, dan dia bisa ikut tampil di pentas seni. Lagipula. Kaki Liesel sudah tak terlalu sakit. Hanya nyeri yang kadang terasa.

Liesel yakin dia bisa menahan sakit saat menari nanti. Tapi dokter bilang tidak bisa. Ayah dan Bunda juga tidak akan mengizinkan.

“Daripada sedih terus, bantu Ayah beres-beres gudang, yuk,” ajak Ayah sambil menepuk bahu Liesel lembut.

Kata Ayah, mereka akan mencari kereta bayi milik Liesel dulu untuk diberikan pada tetangga mereka. Dengan sedikit malas, Liesel mengiyakan. Ayah membantu Liesel berdiri.

Gudang sudah hampir penuh dengan barang yang tak lagi terpakai. Ada kardus-kardus berisi mainan Liesel ketika masih kecil. Ada juga perabotan-perabotan yang sebenarnya masih bagus.

Kereta bayi yang dicari ada di tengah ruangan. Dilapisi plastik mika agar tidak terlalu kotor dan cepat rusak.

“Nanti kita bersihkan dan cat ulang,” kata Ayah kemudian.

Liesel melihat sekeliling, pandangannya terhenti pada sebuah boneka besar yang digantung di salah satu dinding.

“Ayah, itu apa?” tanya Liesel penasaran.

Boneka marionette. Biasanya digunakan dalam pertunjukkan boneka tali.

Boneka itu peninggalan almarhum Kakek. Liesel baru teringat jika dulunya Ayah pernah bercerita tentang Kakek yang gemar memainkan marionette. Sekarang boneka kayunya hanya tinggal satu. Ukurannya lumayan besar, hampir setinggi Liesel.

“Liesel mau belajar main boneka tali?”

Tanpa ragu dan bersemangat, Liesel mengangguk.

*

Tubuhnya berwarna pink. Matanya berbinar-binar dan besar sekali. Baju milik Liesel yang sudah tak muat lagi dipasangkan di tubuh boneka kayu. Untuk rambutnya, Liesel menemukan sebuah wig di gudang.

Lucu sekali.

Hari itu juga, Ayah mengajarkan Liesel memainkan boneka marionette. Tali boneka diikatkan pada sebuah kayu silang terlebih dahulu. Jika kayu digerakkan, boneka akan ikut bergerak.

Seperti menari. Ah, menari!

Liesel tersenyum bahagia. Mungkin, dia akan memainkan boneka marionette di pentas seni nanti.

*

Liesel terkejut melihat Selma tengah termenung di teras rumahnya. Wajah Selma terlihat begitu sedih.

“Selma kenapa?” tanya Liesel sambil meletakkan boneka kayunya secara perlahan.

Selma tidak yakin akan ikut tampil mengisi pentas seni. Tarian yang sudah dipelajari jauh-jauh hari adalah tarian untuk dua orang. Dan waktunya sudah terlalu mepet untuk mempelajari tarian baru.

Liesel merasa tak enak hati. Dia tahu, Selma sudah lama ingin tampil di pentas seni sekolah. Meski tarian yang mereka pelajari memang bisa dibawakan secara solo, tapi akan lebih bagus jika dibawakan berpasangan.

Andai saja kaki Liesel tidak terkilir…

Aha!

“Ada cara lain!” cetus Liesel tiba-tiba.

Selma terlihat bingung.”Bagaimana? Kaki kamu “kan belum sembuh benar,” kata Selma terlihat was-was.

Liesel membisikkan sesuatu di telinga Selma. Mata Selma membulat besar. Mirip seperti  mata boneka marionette  milik Liesel.

*

Jantung Liesel berdebar-debar ketika gerakan Selma mulai berhenti. Tepuk tangan terdengar dari arah penonton.

Selma membungkuk, mengucapkan terima kasih. Di pergelangan tangan Selma ada benang yang diikatkan pada kayu silang. Tak jauh dari Selma, ada boneka marionette Liesel.

“Kita berhasil!” pekik Selma sambil memeluk Liesel erat.

Mereka berlatih setiap hari. Liesel memainkan boneka kayu agar bergerak seolah sedang menari. Dan Selma berlatih membuat irama tarinya menjadi lebih pelan. Berlagak seperti boneka tali.

Liesel hampir menangis karena tidak menyangka bahwa akhirnya dia tetap bisa tampil di pentas seni. [L]

==============================================================================

Cerita anak kelima di Bobo tahun ini.

Tarian Boneka merupakan PR minggu pertama ketika saya mengikuti kelas Merah Jambu Anak 4 sekitar 2 tahun lalu. Ketika itu, Mbak Nur memberi tugas agar kami mencari gambar, lalu membuat cerita anak dari gambar-gambar yang telah dipilih.

Waktu itu saya melihat ilustrasi seorang anak yang menari di bawah hujan, dan langsung berpikir untuk menulis cerita tentang seorang anak yang suka sekali menari. Plot dan alurnya tidak langsung saya dapat begitu saja. Hingga akhirnya saya menonton rerun Criminal Minds di Fox (entah season dan episode berapa, saya lupa) tentang seorang pelaku kriminal yang menggunakan boneka marionette sebagai ‘alatnya’.

Awalnya, cerita ini saya kirimkan untuk Girls karena melihat segmen usianya yang sedikit di atas Bobo. Ketika akhir 2015 mendapat kabar Girls tutup :(, saya mengirimkan cerita ini untuk Bobo di pertengahan Januari 2016.

Dan sekitar 2 minggu lalu, ketika disibukkan dengan pekerjaan dan persiapan ke Jogja, saya mendapat kabar kalau Tarian Boneka dimuat di Bobo nomor 6. Thanks God! :’) Semakin spesial rasanya karena di edisi kali ini saya segerbong dengan Mbak BE Priyanti. Yeay! <3

Ada beberapa bagian yang diedit oleh pihak editor Bobo. Seperti bagian Selma mengabarkan berita bahagia kepada Liesel di awal cerita. But I still prefer the original one. Hehe… Mungkin karena cerita terasa begitu dekat dengan saya. Atau, mungkin juga, karena ketika menulis Tarian Boneka, saya mulai menemukan kenyamanan ketika menulis cerita anak realis. [L]

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s