Kaca Jendela


Dimuat di Majalah Bobo edisi 07 Tahun XLV (25 – 31 Mei 2017)

Kaca Jendela

Oleh: Leanita W.

 

“Aduh, bagaimana ini?”

Dari kejauhan Damar, Joko, Bagus, dan Wahyu memandangi lubang besar tak rata pada kaca jendela. Pecahan kacanya pastilah berserakan tak karuan.

“Kamu sih, Mar,” kata Joko.

“Lho kok aku sih? Bagus tuh, yang tidak bisa menghalau tendanganku,” Damar memebela diri, meski dia tahu dia juga salah.

Mereka berempat tengah bermain sepak bola di tanah lapang ujung kompleks. Dan celakanya, tendangan Damar terlalu kuat dan mengarah ke jendela lebar rumah Bu Lia.

‘Terus kita harus bagaimana?’ tanya Bagus.

Serempak, mereka menggeleng lemah. Bu Lia, tetangga mereka itu, terkenal galak. Minggu kemarin mereka secara tidak sengaja memecahkan pot bunga Bu Lia saat tengah bermain. Damar, Joko, Bagus, dan Wahyu langsung berlari. Sedangkan Bu Lia berkacak pinggang, mengomel dan menyuruh mereka kembali.

‘Tapi ini salah kita. Kita harus minta maaf,’ putus Wahyu.

Ketiga temannya mengangguk lemah. Sebenarnya mereka takut jika harus menghadapi Bu Lia. Bagaimana pun mereka masih ingat hari ketika Bu Lia marah-marah.

Hari sudah sore ketika akhirnya Bu Lia muncul dengan dua kantong belanjaan di tangannya. Wajahnya tampak letih karena seharian bekerja.

“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanyanya ketika melihat keempat anak itu berdiri di depan pintu gerbang rumahnya.

Kepala keempat anak itu tertunduk. Mereka saling menyikut satu sama lain, untuk mengakui perbuatan mereka ke Bu Lia.

Bu Lia memandangi anak-anak itu satu per satu. Wajahnya sudah terlihat tak sabar. Akhirnya, Wahyu memberanikan diri untuk bicara.

“Kaca jendela rumah ibu, tadi tidak sengaja kena bola,” ucap Wahyu dengan suara bergetar.

Mata Bu Lia memicing, mengingatkan keempat anak itu pada sosok penyihir dalam dongeng Hansel dan Gretel.

“Maaf, Bu,” lanjut Bagus. “Tapi kita benar-benar tidak sengaja.”

Bu Lia berdiri tegang. Damar, Joko, Bagus, dan Wahyu sudah bersiap-siap menerima omelan wanita itu. Mereka sudah pasrah.

“Kalian tahu kesalahan kalian?”

Mereka mengangguk serempak. Kepalanya makin tertunduk dalam, tidak berani beradu tatapan dengan Bu Lia.

“Minggu lalu, kalian juga memecahkan beberapa pot bunga saya. Padahal itu adalah pemberian ibu saya di kampung.”

“Kami salah, Bu.” Damar bersuara lirih sekali.

“Ayo, masuk,” ajak Bu Lia.

Mereka saling berpandangan. Pikiran mereka mulai dipenuhi hal-hal yang menakutkan. Bagaimana kalau Bu Lia menyekap mereka? Tapi mereka tetap mengikuti langkah Bu Lia ke dalam rumah.

Sesampai di dalam, Bu Lia menyerahkan beberapa buah sapu dan tempat sampah, menyuruh mereka membersihkan pecahan kaca yang berserakan di dalam rumah. Dengan berhati-hati, agar pecahan kaca itu tidak melukai tangan, mereka mengerjakannya. Masih beruntung dihukum seperti ini, pikir mereka.

Setelah selesai membereskan pecahan kaca, Bu Lia keluar dari dapur membawa sepiring kue bolu dan lima gelas susu cokelat hangat.

“Ini, dimakan. Jangan khawatir, ini tidak seperti dalam dongeng,” katanya sambil tersenyum.

Damar, Joko, Bagus, dan Wahyu tertunduk malu. Dongeng kan hanya rekaan belaka.

“Saya tidak akan marah, kok.”

“Ta… tapi minggu kemarin Bu Lia marah,” sahut Joko.

Bibir Bu Lia mengerucut. “Itu karena kalian kabur. Hari ini, kalian datang untuk minta maaf. Dan juga, kalian membantu saya membersihkan pecahan-pecahan kaca itu.”

“Ooooh…” kata mereka hampir bersamaan.

“Pemberani bukan hanya berarti mereka yang mau menantang bahaya, tapi juga mereka yang mau mengakui kesalahan dan berbesar hati mengakui kesalahan,” tutup Bu Lia.

Mereka menghabiskan sisa sore dengan berbagi cerita bersama. Tertawa-tawa hingga sepiring bolu dan susu di gelas mereka tandas.

Dalam hati, mereka lega telah mengakui kesalahan mereka. Dan sekarang, Bu Lia menjadi salah satu teman baru mereka.

==============================================================================

 

Two weeks in a row. Yeay! <3 

Ide Kaca Jendela ini sederhana, bahkan bagi saya terlampau sederhana. Karenanya, ketika cerita ini akhirnya dimuat–selain karena saya kembali salah kirim ke alamat surel lama, duh!–saya lumayan kaget.

I was on my post-travel syndrome when I received this good news, btw. Kabar ini saya terima 22 Mei lalu, sehari setelah saya pulang ngebolang ke Jogja. Jadi, di saat post-travel itu melanda (sampai sekarang saya sama sekali belum un-packing itu barang bawaan. Haha :P), kabar ini benar-benar membuat saya makin tersenyum lebar.

Meski ketika Kamis senyum saya lumayan redup…

Sedikit curhat. Sejak awal bulan Mei, saya memang berharap kalau ada cerita anak yang dimuat di Bobo pada tanggal 25 Mei. Pasalnya, final Europa League dihelat tepat pada tanggal itu–waktu Indonesia. Saya pun memutuskan untuk menunggu hari Kamis untuk mengabarkan perihal cernak di Bobo, sembari berharap Ajax menang. But, that time, there was no double happiness for me. :( :(

Tapi, tak apalah. Mungkin selain rejeki menjelang lebaran, dimuatnya cernak ini memang ‘dirancang’ untuk menghibur saya yang bakalan patah hati. :’) [L]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s