Labirin

Bahkan, hingga kini, aku selalu benci berjalan di sebuah lorong panjang yang nyaris tertutup. Ini mengingatkan pada labirin Daedalus, sebuah labirin di bawah Kreta dalam mitologi Yunani; kisah yang kubaca ketika masih kecil. Aku mulai membayangkan bagaimana jika Minotaur itu muncul di depan kita, lalu memamerkan wujudnya yang mengerikan: tubuh serupa manusia dengan kepala banteng. Apa yang sekiranya akan kita lakukan? Lari. Seakan tak pernah ada pilihan selain lari. Tapi bukan monster itu yang membuatku bergidik. Mereka bilang, labirin Daedalus bisa membaca pikiran kita, ketakutan-ketakutan terdalam kita dan akan menelan kita di dalamnya.
Continue reading “Labirin”

I Won’t Give Up on ‘Us’

Tiba-tiba, kau teringat saat pertama kali melakukan pendakian.

Sudah hampir dua bulan berlalu. Mulanya, kau berpikir itu akan mudah dan seluruh persiapan yang kaulakukan sudah cukup. Bahwa fisikmu akan cukup kuat untuk melakukan pendakian yang hanya kurang dari satu jam—tempat yang kaudaki hanyalah serupa bukit.

Kau keliru.
Continue reading “I Won’t Give Up on ‘Us’”

Penuh

Kau tahu apa hal yang paling menyesakkan?

Kau sudah sering merasakannya. Berkali-kali, dan sadar benar bagaimana kau begitu membenci perasaan itu.

Benakmu terasa penuh, hingga kau sendiri kesulitan menguraikannya. Dan hatimu… hatimu yang rapuh itu begitu sesak dengan begitu banyak rasa: sedih, marah, tak peduli, serta rasa-rasa yang tak kau tahu harus menamainya dengan apa.

***

Sabtu malam kemarin, kau pergi ke bioskop demi satu film yang diadaptasi dari salah satu buku favoritmu.

Bahkan, sebelum berangkat kau sudah tahu apa yang nantinya akan terjadi. Akan ada pertanyaan-pertanyaan yang muncul setelah begitu lama kausimpan untukmu sendiri. Akan ada satu mimpi yang kembali menyeruak setelah kautepikan atas nama realitas.
Continue reading “Penuh”

Up In Flames

So it’s over. This time, I know, it’s gone. Salt water, you tasted it too long. I only know one rule. Now I know, it’s gone.*

Mungkin, sesekali kita memang perlu menciptakan jarak. Sedikit lebih jauh sepertinya akan membuat kita merenungi lagi semua.

Semua. Dan mungkin kita takkan bisa merincinya satu per satu. Tapi yang kita sama-sama tahu, ada beberapa hal yang sebenarnya kita sangkal; keputusan yang terlalu takut untuk kita ambil. Continue reading “Up In Flames”

Pagi [1]

Pagi-pagi, kamu menemukanku tengah melingkari angka-angka di kalender meja. Menulisi setiap ruang kosongnya dengan kode dan simbol-simbol lucu. Kamu tak bertanya, juga tak menuntut penjelasan apa-apa. Mulanya, kulihat kamu sedikit ragu. Tapi kemudian kamu melengkungkan bibir, kamu tersenyum.

“Someone would leave. Someone always leaves. Then we would have to say goodbye.” ~ Charles M. Schulz

Aku sadar, kita hanya sama-sama sedang menunggu. Dan menghitung waktu.