Connecting Dots

Saya kerap kali berpikir bahwa hal-hal kecil yang terjadi sebenarnya adalah titik-titik yang, pada akhirnya, akan saling terhubung membentuk satu garis dengan satu kejadian di masa yang akan datang. Bukan hanya sekali saya merenung–atau melamun?–hanya untuk mengingat titik-titik di masa lalu dan menghubungkannya dengan masa sekarang. I still don’t find ‘them’, anyway. Tapi mungkin saya sudah menemukannya, satu–and it’s enough to make me, errr, happy, proud, I don’t know. Haha 

Charming Old Town Split and its gorgeous Adriatic Sea from above (photo credit: European Best Destinations)

Ketika kecil, saya tidak hanya tumbuh dengan cerita-cerita tentang negeri Belanda. Continue reading “Connecting Dots”

Warna-Warni Moss Rose nan Memesona

Perkara bernostalgia memang kerap memengaruhi keputusan yang saya ambil. Bahkan, dalam urusan berkebun.

Setahun belakangan, hobi yang pernah saya gemari ketika duduk di bangku sekolah ini, kembali muncul. Meski awalnya hanya sekdar iseng, namun berkebun rupanya menjadi obat stress dan pelarian ketika mulai jenuh menulis. Karenanya, ketika hobi itu mulai berjalan setengah tahun, saya mulai merasa kangen akan bunga-bunga yang dulu menghiasi halaman rumah saya.

Moss Rose
Moss rose yang dulunya gampang ditemui di pinggir jalan. (dok. pribadi)

Continue reading “Warna-Warni Moss Rose nan Memesona”

Tentang Cerita Dunia Remaja

Cerpen Pertama di Majalah Gadis edisi 25 tahun 2016
Cerpen Pertama di Majalah Gadis

Menulis cerita remaja selalu menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Jika disuruh memilih di antara tiga (cerita dewasa, cerita remaja, dan cerita anak), cerita remaja selalu berada di urutan paling buncit. Karenanya, awal 2016 saya sudah bertekad untuk bisa menulis minimal satu cerpen remaja. (Iya, cuma satu!)  Continue reading “Tentang Cerita Dunia Remaja”

Nostalgia dan Sesuatu yang Tak Bertahan Selamanya

Sebenarnya ini bukan posting mellow seperti judul di atas. Bahkan jauh dari itu. Hehe…

Tadi pagi saya mengklik tab ‘memories’ di facebook. Hal ini tiap hari saya lakukan karena saya selalu penasaran seberapa jauh perubahan diri selama bertahun-tahun. Dan hari ini ada sesuatu yang menggelitik hati dan membawa saya pada kesimpulan seperti judul di atas. Dan percayalah, ini tidak ada hubungannya dengan hati, melainkan… sepak bola. :P Continue reading “Nostalgia dan Sesuatu yang Tak Bertahan Selamanya”

Empat

“Kamu pikir kenapa kursi punya kaki empat?” Tiba-tiba saja, perbincangan dengan mantan atasan saya empat atau lima tahunan lalu itu kembali melintas di pikiran.

Sebenarnya bukan tanpa sebab. Sejak dua bulan lalu, ketika saya memutuskan untuk mengikuti kelas menulis cerita dewasa, angka empat jadi akrab di telinga saya. Jadi, awalnya, ketika lulus seleksi untuk masuk kelas, dan dimasukkan ke grup rahasia di facebook, saya sedikit kaget. Empat lagi. Continue reading “Empat”